19 September 2012
Kemarin saya nonton Just Alvin, iseng saja sebenarnya, kalau topiknya lagi menarik ya saya nonton. Bukan tonton wajib juga. Kalau tidak salah topiknya Wanna Hold Your Hands Forever. Ada sosok perempuan yang menarik hati saya. Saya belum pernah melihat dia sebelumnya. Tapi karakternya terlihat begitu kuat. Fira Basuki namanya.
Besoknya saya browsing tentang dia dan tahu kalau dia itu adalah salah satu sastrawati Indonesia. Saya juga nemu multiply dia, sepertinya memang asli tulisan dia. Ada banyak tulisan mbak Fira yang menarik perhatian saya, namun satu tulisan ini benar-benar ngena banget di saya, judulnya Ketika Cantik vs Ketika Jelek. Benar sekali bahwa cantik hati itu lebih penting dari cantik rupa bagi kita pribadi terutama. Tapi orang lain toh akan lebih memerhatikan kita jika kita berwajah cantik. Tidak jarang kita diabaikan kalau kita "lagi jelek". Cantik yang saya maksudkan di sini cantik menarik yaa, tidak harus sempurna misalnya hidung mancung, tinggi, mata belok, ya cantik maksud saya enak dipandanglah, hehe.
Oh iya, saya memberi kutipan pada kata "lagi jelek" karena saya tahu selama perjalanan hidup ini tidak selamanya kita jelek. Ada kalanya kita cantik tapi di suatu masa kita akan malas berdandan dan agak mengabaikan diri.
Walaupun bukan lagi jamannya Judge The Book by Its Cover, jujurlah banyak orang masih lihat luarnya dulu kan! :)
Sudahkah anda shalat?
Sudahkah Anda Sholat???
^^ Kalau Belum Sholat Yuk. ^^
By Debby Sheilla Saputri
Semangat Debby
Senin, 19 November 2012
Rabu, 14 November 2012
Lensa Hidup :Punya Banyak Sisi Tergantung Cara Kau Memandangnya
Hidup adalah hal yang tak terduga. Layaknya sebuah hadiah kadang bisa membuatmu terkejut kadang biasa saja. Kadang dia membuatmu senang tapi suatu saat kau bisa tidak menyukainya.Bagaimanapun kado adalah kado, sesuatu yang diberikan untuk kita.Alangkah baiknya jika kita menghargai hadiah itu untuk menghargai si pemberinya. Seperti itu pula baiknya kita menghargai hidup ini untuk menghargai Sang Maha Pencipta.
Sabtu, 10 November 2012
Pagi itu, dengan malas aku beranjak dari tempat tidur, bersegera untuk memulai hari. Sabtu, biasanya adalah hari libur untuk ku. Seperti kebanyakan hari libur aku lebih senang memanfaatkannya untuk istirahat di kosan. Namun pagi itu aku sudah telanjur membayar untuk ikut Seminar Kepribadian dan Workshop Public Speaking di Fakultas ISIP UNPAD.
Sedikit menyesal membayangkan diriku melongo sendirian di workshop itu tanpa tahu harus mengajak ngobrol siapa, aku menghela nafas dan meyakinkan diri kalau setidaknya aku bisa melihat Tina Talisa di workshop itu. Adikku yang mengajakku ikut seminar ternyata tidak bisa hadir karena tanpa diduga proposal PKMnya diterima dan harus presentasi hari itu juga.
Untungnya aku sedikit beruntung, dia ,Desi anak Kesejahteraan Sosial, cukup ramah dan mau tersenyum mendengar celotehanku. Bahkan aku sangat lega karena ditemani shalat, karena ini adalah pengalaman pertamaku masuk gedung FISIP setelah kuliah cukup lama di UNPAD ,selama dua tahun. Tadinya aku berpikir akan sangat sulit bagiku yang mudah tersesat di tempat baru untuk menemukan mushala sendiri.
Desi yang berjalan di belakangku memanggil seseorang, temannya kukira. Agak terkejut, kulihat ia hanya mempunyai satu kaki dan satu tangan. Anak laki-laki itu terlihat berjalan melompat-lompat, sepenglihatanku dia tidak memakai tongkat. Aku yang bingung, takut memunculkan ekspresi terkejut yang berlebihan dari mukaku memilih untuk mengalihkan pandangan.
Desi menyapanya dengan ramah, terdengar renyah, tak dibuat-buat.Aku tak sempat mendengar mereka mengobrol apa, yang kutangkap hanya percakapan biasa namun terlihat sangat bersahabat. Kurasa aku tidak bisa seramah itu, pikirku. Maksudku tentu aku ingin tapi belum bisa melakukannya.
Sejenak aku terdiam memikirkan pertanyaanku beberapa waktu lalu. Ketika itu aku nonton Kick Andy tentang seorang anak perempuan yang kakinya harus diamputasi karena kanker. Dia sangat bersemangat dan ingin sekali kuliah. Saat itu hal pertama yang kupikirkan adalah betapa kasihannya dia, apa dia bisa kuliah dengan satu kaki di universitas umum. Bagaimana kalau dia harus kuliah di lantai 3 pasti akan sangat sulit. Aku sering sekali mendengar keluhan dari orang yang normal sekalipun betapa capeknya menaiki tangga. Tapi dia bisa, anak laki-laki itu sekarang kuliah di universitas yang sama denganku di UNPAD.
Belakangan aku bertanya pada Rio adikku tentang anak tersebut. Rio menjawabnya dengan semangat bahkan menambahkan dengan bangga memberitahuku kalau anak itu adalah salah satu siswa yang ikut seleksi KPM yang merupakan salah satu dari rangkaian acara tersebut.
Dengan penasaran aku bertanya "Gimana ya kalau dia harus turun naik tangga?"
"Kan ada temannya deb," jawab adikku.
Sungguh aku melupakan hal itu, aku tertegun. Aku berdoa semoga dia selalu dikelilingi orang baik yang akan selalu mau membantunya untuk turun naik tangga.
***
Mungkin aku belum bisa seratus persen mencontoh semangatnya belum bisa bersyukur akan kehidupan sebaik dia. Tapi pasti akan ku coba, setidaknya menjadi yang terbaik dari apa yang bisa aku lakukan.
Sabtu, 10 November 2012
Pagi itu, dengan malas aku beranjak dari tempat tidur, bersegera untuk memulai hari. Sabtu, biasanya adalah hari libur untuk ku. Seperti kebanyakan hari libur aku lebih senang memanfaatkannya untuk istirahat di kosan. Namun pagi itu aku sudah telanjur membayar untuk ikut Seminar Kepribadian dan Workshop Public Speaking di Fakultas ISIP UNPAD.
Sedikit menyesal membayangkan diriku melongo sendirian di workshop itu tanpa tahu harus mengajak ngobrol siapa, aku menghela nafas dan meyakinkan diri kalau setidaknya aku bisa melihat Tina Talisa di workshop itu. Adikku yang mengajakku ikut seminar ternyata tidak bisa hadir karena tanpa diduga proposal PKMnya diterima dan harus presentasi hari itu juga.
Untungnya aku sedikit beruntung, dia ,Desi anak Kesejahteraan Sosial, cukup ramah dan mau tersenyum mendengar celotehanku. Bahkan aku sangat lega karena ditemani shalat, karena ini adalah pengalaman pertamaku masuk gedung FISIP setelah kuliah cukup lama di UNPAD ,selama dua tahun. Tadinya aku berpikir akan sangat sulit bagiku yang mudah tersesat di tempat baru untuk menemukan mushala sendiri.
Desi yang berjalan di belakangku memanggil seseorang, temannya kukira. Agak terkejut, kulihat ia hanya mempunyai satu kaki dan satu tangan. Anak laki-laki itu terlihat berjalan melompat-lompat, sepenglihatanku dia tidak memakai tongkat. Aku yang bingung, takut memunculkan ekspresi terkejut yang berlebihan dari mukaku memilih untuk mengalihkan pandangan.
Desi menyapanya dengan ramah, terdengar renyah, tak dibuat-buat.Aku tak sempat mendengar mereka mengobrol apa, yang kutangkap hanya percakapan biasa namun terlihat sangat bersahabat. Kurasa aku tidak bisa seramah itu, pikirku. Maksudku tentu aku ingin tapi belum bisa melakukannya.
Sejenak aku terdiam memikirkan pertanyaanku beberapa waktu lalu. Ketika itu aku nonton Kick Andy tentang seorang anak perempuan yang kakinya harus diamputasi karena kanker. Dia sangat bersemangat dan ingin sekali kuliah. Saat itu hal pertama yang kupikirkan adalah betapa kasihannya dia, apa dia bisa kuliah dengan satu kaki di universitas umum. Bagaimana kalau dia harus kuliah di lantai 3 pasti akan sangat sulit. Aku sering sekali mendengar keluhan dari orang yang normal sekalipun betapa capeknya menaiki tangga. Tapi dia bisa, anak laki-laki itu sekarang kuliah di universitas yang sama denganku di UNPAD.
Belakangan aku bertanya pada Rio adikku tentang anak tersebut. Rio menjawabnya dengan semangat bahkan menambahkan dengan bangga memberitahuku kalau anak itu adalah salah satu siswa yang ikut seleksi KPM yang merupakan salah satu dari rangkaian acara tersebut.
Dengan penasaran aku bertanya "Gimana ya kalau dia harus turun naik tangga?"
"Kan ada temannya deb," jawab adikku.
Sungguh aku melupakan hal itu, aku tertegun. Aku berdoa semoga dia selalu dikelilingi orang baik yang akan selalu mau membantunya untuk turun naik tangga.
***
Mungkin aku belum bisa seratus persen mencontoh semangatnya belum bisa bersyukur akan kehidupan sebaik dia. Tapi pasti akan ku coba, setidaknya menjadi yang terbaik dari apa yang bisa aku lakukan.
Sabtu, 03 November 2012
Hidup Cuma Sekali
Assalammualaikum sahabat.
Bukan tulisan penting, dalam kesempatan ini saya hanya ingin mencurahkan rasa. Diam saat merasa kesal dengan tingkah seseorang, karena masalah sepele, karena ekspresi aneh orang ketika memandang dirimu, karena orang tertawa di depan mukamu, tanpa kau tahu mereka menertawakan apa, sering kali saya lakukan, mungkin kebanyakan dari kalian juga begitu. Intinya tidak mau cari masalah. Jarang sekali orang (kecuali orang-orang yang dalam pandangan saya merasa dirinya keren jika bereaksi terhadap hal sepele seperti itu, merasa punya kekuatan mungkin) mau terlihat marah-marah karena masalah sepele di depan umum, you know it will show who the real you are.
Banyak hal sepele yang mungkin mebuatmu tidak nyaman. Misalnya saja, perlakuan sepele teman saya yang membuat saya awalnya merasa mungkin dia berpikir saya bukan orang baik. Tapi itu hanya pikiran saya dan saya segera membuangnya jauh-jauh. Hanya bermula ketika dia yang duduk tepat di belakang saya bertanya kepada teman di samping kiri saya ,"Eh kamu punya minyak angin nggak?" setelah dijawab tidak dia bertanya lagi pada teman di sebelah kanan saya, "Punya minyak angin nggak?" dan ternyata dia juga tidak punya. Setelah itu ya dia hanya berpasrah tanpa mendapat minyak angin.Sudah terlihat poinnya? Mungkin belum, bagaimana jika dengan kejadian ini. Saya mengeluarkan beberapa fotokopian ujian. Di ruangan itu baru duduk 4 orang. Lalu dia (masih orang yang sama) datang, dan berkata "Aduh gimana (sebut saja namanya Minah) Minah belum belajar nih sama sekali." Singkatnya dia berniat untuk meminjam fotokopian bahan ujian pada tiga teman saya di kelas itu, dan bertanya pada mereka siapa yang punya fotokopian itu. Anehnya dia sama sekali tidak bertanya pada saya yang jelas-jelas sedang memegang fotokopian yang dia mau.
Sebagai informasi, dia tidak pernah membenci saya, setidaknya tidak pernah menunjukkannya di depan saya. Anyway, yah memang saya hanya mahasiswa biasa yang tidak pernah frontal mengungkapkan sesuatu yang saya tidak suka.Sekali lagi hal yang dia lakukan tadi hanya hal sepele, namun tidak luput dari pengamatan saya. Hal itu cukup membuat saya merasa buruk, namun yang pertama saya lakukan ialah berfikir seberapa pentingkah dan seberapa banyakkah kontribusi dia dalam hidup saya. Jawabannya Nol. Yang berarti ada atu tidak ada dia, benci atau tidak benci dia pada saya, suka atau tidak suka dia pada saya, pengaruhnya sama dengan tidak ada.
Kadang saya sering introspeksi diri sendiri. Memang saya terlalu kaku, jarang berbasa-basi, mungkin beberapa orang menganggap saya sombong. Ingin sekali mengubah diri menjadi pribadi yang lebih supel. Tapi semakin saya mencoba semakin saya terlihat kaku, terlihat berpura-pura.
Saya renungkan lagi, setidaknya saya bukan orang jahat. Saya juga baik dengan teman saya, cenderung menyapa duluan jika bertemu, berkata halus dan sopan, peduli dengan sesama, masih banyak hal lain yang baik dalam diri saya.
Memutuskan untuk sedikit mengabaikan (bukan berarti sama sekali tidak peduli) dengan yang orang pikir tentang kamu, bisa jadi salah satu solusi yang baik untuk membuat hidup jadi lebih bahagia.
Hidup cuma sekali dan saya ingin bahagia, begitu juga dengan anda kan?
Bukan tulisan penting, dalam kesempatan ini saya hanya ingin mencurahkan rasa. Diam saat merasa kesal dengan tingkah seseorang, karena masalah sepele, karena ekspresi aneh orang ketika memandang dirimu, karena orang tertawa di depan mukamu, tanpa kau tahu mereka menertawakan apa, sering kali saya lakukan, mungkin kebanyakan dari kalian juga begitu. Intinya tidak mau cari masalah. Jarang sekali orang (kecuali orang-orang yang dalam pandangan saya merasa dirinya keren jika bereaksi terhadap hal sepele seperti itu, merasa punya kekuatan mungkin) mau terlihat marah-marah karena masalah sepele di depan umum, you know it will show who the real you are.
Banyak hal sepele yang mungkin mebuatmu tidak nyaman. Misalnya saja, perlakuan sepele teman saya yang membuat saya awalnya merasa mungkin dia berpikir saya bukan orang baik. Tapi itu hanya pikiran saya dan saya segera membuangnya jauh-jauh. Hanya bermula ketika dia yang duduk tepat di belakang saya bertanya kepada teman di samping kiri saya ,"Eh kamu punya minyak angin nggak?" setelah dijawab tidak dia bertanya lagi pada teman di sebelah kanan saya, "Punya minyak angin nggak?" dan ternyata dia juga tidak punya. Setelah itu ya dia hanya berpasrah tanpa mendapat minyak angin.Sudah terlihat poinnya? Mungkin belum, bagaimana jika dengan kejadian ini. Saya mengeluarkan beberapa fotokopian ujian. Di ruangan itu baru duduk 4 orang. Lalu dia (masih orang yang sama) datang, dan berkata "Aduh gimana (sebut saja namanya Minah) Minah belum belajar nih sama sekali." Singkatnya dia berniat untuk meminjam fotokopian bahan ujian pada tiga teman saya di kelas itu, dan bertanya pada mereka siapa yang punya fotokopian itu. Anehnya dia sama sekali tidak bertanya pada saya yang jelas-jelas sedang memegang fotokopian yang dia mau.
Sebagai informasi, dia tidak pernah membenci saya, setidaknya tidak pernah menunjukkannya di depan saya. Anyway, yah memang saya hanya mahasiswa biasa yang tidak pernah frontal mengungkapkan sesuatu yang saya tidak suka.Sekali lagi hal yang dia lakukan tadi hanya hal sepele, namun tidak luput dari pengamatan saya. Hal itu cukup membuat saya merasa buruk, namun yang pertama saya lakukan ialah berfikir seberapa pentingkah dan seberapa banyakkah kontribusi dia dalam hidup saya. Jawabannya Nol. Yang berarti ada atu tidak ada dia, benci atau tidak benci dia pada saya, suka atau tidak suka dia pada saya, pengaruhnya sama dengan tidak ada.
Kadang saya sering introspeksi diri sendiri. Memang saya terlalu kaku, jarang berbasa-basi, mungkin beberapa orang menganggap saya sombong. Ingin sekali mengubah diri menjadi pribadi yang lebih supel. Tapi semakin saya mencoba semakin saya terlihat kaku, terlihat berpura-pura.
Saya renungkan lagi, setidaknya saya bukan orang jahat. Saya juga baik dengan teman saya, cenderung menyapa duluan jika bertemu, berkata halus dan sopan, peduli dengan sesama, masih banyak hal lain yang baik dalam diri saya.
Memutuskan untuk sedikit mengabaikan (bukan berarti sama sekali tidak peduli) dengan yang orang pikir tentang kamu, bisa jadi salah satu solusi yang baik untuk membuat hidup jadi lebih bahagia.
Hidup cuma sekali dan saya ingin bahagia, begitu juga dengan anda kan?
Sabtu, 14 April 2012
Sabtu, 07 April 2012
My Short Story
To
Mother
I saw a smile from a
woman, the sincere smile from a woman that loved me very much. Then, I cried
and hugged her. I apologized to her. She asked me to stop crying. She promised
me not to go anywhere. She promised me to be there when I need her. She asked me to be calm and she held my hand
for a while. Then two women who wore white clothes pushed my bed. They would
take me to a room. My mother hugged me once more before two other women that
wore green clothes and green head caps, like shower cap, pushed my bed into a
room. It was a white cold room. I can
saw the light of the lamp over my head. The women asked me to be calm and two
men came. One of them injected me. I started feeling sleepy. I slept.
***
I was in front of my
house. I saw me, myself, a girl with a bright smile. She got ready to go. I could
see that she brought two briefcases. “Is
it a dream?” “Yes of course, it is a dream.” “I was in the cold room before and
now I can see myself a year ago.” I answer my own question. I saw myself in
2011.
I was getting ready to go to Bandung. I was a
seventeen-year-old girl when I went to Bandung. I was an ordinary girl who came
from Yogyakarta. My mother named me Annisa. It was a short name that meant a
woman. My friend always called me Nisa. I don’t have any brothers or sisters. I
only lived with my mother. I was very happy because I could leave Yogyakarta. No,
I meant, I was very happy because I could leave my mother. Actually, I wanted
to live separately from my mother because our relationship isn’t too good. Now,
one of my dreams came true.
My mother, with her
frozen expression, said, “take care honey, don’t forget to call me my sweet
Nisa.” “Okay, I will call you. There was a paused. If you are not always busy I
will call you mom.” My mother felt guilty. I could saw it from her eyes. Her
frozen brown eyes changed to sad eyes. “Don’t cry Mom,” I said to my mother. “Don’t
be too sad, we met rarely, don’t we? So, there is no problem if I leave you
alone in Yogyakarta.” “Yes, you are right sweetie, take care don’t forget to
call me,” she tried to smile. However I know that she was very sad. She let me
go and saw my car disappear.
***
I was under the mangoes
tree, in front of my house, saw the black car went away from my house. The
seventeen-year-old Nisa was in that car. I ran to catch that car. Surprisingly,
when I thought about the black car, I moved into that car. I sat beside the
girl with a bright smile who wore a yellow t-shirt. I could see her texting some
messages but he couldn’t see me.
Now, the environment
changed. I wasn’t in the car anymore. I was in the yard seeing a girl that I
know very much looked sad. She is me. She stared at a girl that went away from
her. The girl looked very happy. I remembered at that time Kisi, my best friend
in the college, left me alone when I wanted to tell her a story. She became
busier since she had a boyfriend. I felt lonely.
Kisi was my best friend.
She wasn’t only a friend for me but also a mother. At the first, I was very
happy because I thought Kisi could replace a figure of a mother. However, I
knew that I couldn’t always depend on Kisi. She had her own life. I knew that a
friend couldn’t replace a family. Now, I missed my lovely mother so bad.
I was surprised hearing
someone cried near me. “Who is crying?” asked I to myself. I realized that now
I wasn’t in the yard anymore. “Where is it?” “Oh I know this room!” I answer my
own question. This was my room in Bandung. I could see the blue wall, the color
that I loved very much. I saw a photograph on my table. In that photograph Kisi
and I laughed. We looked very happy. Suddenly, I heard the sound of the crying
become louder and I looked for the sound.
I saw a
seventeen-year-old Nisa in the corner of the room. See sat holding her knees.
She stared at the paper near the photograph. It was the laboratory check up
result that showed that she suffered brain tumor. At that time, she decided to
call her mother and told her about this condition. I remembered, my mother and
I could only cry at that time. My mother
decided to go to Bandung on the next day.
Now, I wasn’t in my
room in Bandung anymore. The environment had changed. I saw myself held my mom’s
hands. I cried and apologized to her. It was the time before I was operated. In
front of the operation room I could see my mother. “I’m sorry mom, I’m sorry,
I’m so sorry, I repeated those words as many as I could. Suddenly, everything
became dark, I could hear a woman called my name, “Nisa ,Nisa, Nisa.”
I wake up from my long
dream and saw the face of my mother. I was very happy and hugged her. I’m so sorry mom, I’m…. My mother stopped my
words. “Don’t tell about those words anymore sweetie,” she smiled. My mother
told me that the operation was successful. I showed that there was a strange
expression on my mother’s face. However, I didn’t want to ask about that. I
said that I want to take a rest and asked my mother to eat. Suddenly the doctor
came to check my condition.
***
Nisa had already
changed and she showed that she loved me very much. Seven days, after the
operation she asked me to slept near her and she told me about her dream when
she was being operated. She said, “I am very lucky to have you as a mother,
Mom.” I cried, “me too Nisa, I’m very lucky to have you….” “Don’t cry Mom, I
want to sleep,” she interrupted. She slept. I could see the smile on her face. When
I held Nisa’s hands, I was shocked. She was very cold. I cried and call her
name, “Nisa! Wake up sweetie, Wake up!"
Kamis, 05 April 2012
Samsung Utopia S5610
Samsung Murah dengan Kamera 5mp
Samsung Utopia ini sudah mengusung jaringan 3G dengan kecepatan 7,2 Mbps, kamera 5 mp dengan smile detection, auto focus dan flash LED. Selain itu hp ini juga sudah dilengkapi dengan kamus bahasa inggris. Hp ini cocok untuk anak usia sekolah apalagi yang suka foto. Dengan harga Rp 999.999,00 per maret 2012 anda sudah dapat menikmati hasil kamera yang bagus. Kekurangan hp ini adalah tampilan menu yang standard bahkan mungkin tidak cukup menarik.
Untuk informasi selengkapnya silahkan klik link di bawah ini :
Warna-Warni Corby 2
Corby 2
Samsung Corby 2 merupakan hp samsung yang ditujukan untuk pasaran anak muda. Terdiri dari 3 pilihan warna pink, putih, dan kuning hp ini cukup menarik hati, termasuk adik perempuan saya yang tertarik dengan si pink ini. Ponsel keluaran Maret 2011 ini dibandrol dengan harga kurang lebih Rp 800.000,00 per maret 2012. Kamera ponsel ini hanya berkekuatan 2 mp tapi telah dilengkapi oleh smile shutter. Selain itu anda akan merasa cukup puas dengan teknologi layar sentuhnya karena sudah dilengkapi dengan capacitive touchscreen. Saya rasa dengan harga yang terjangkau ponsel ini cukup mumpuni apalagi untuk anak sekolahan.
Corby Pink yang diincer adek saya :
Pilihan warna Corby
Coba klik link ini untuk mengetahui spesifikasi lengkapnya :
Langganan:
Postingan (Atom)





.jpg)


