Sudahkah anda shalat?

Sudahkah Anda Sholat??? ^^ Kalau Belum Sholat Yuk. ^^
By Debby Sheilla Saputri

Semangat Debby

SELAMAT DATANG ingat selalu Tiga pepatah arab ajaib -> man jadda wa jadda; man shabara zhafira; mansara ala darbi washala

Senin, 17 Maret 2014

Menulis di Koran Sindo

 Ini adalah salah satu tulisan saya di Koran Sindo. Kebetulan waktu itu menulisnya ketika liburan di Palembang, jadi tidak sempat membeli koran cetaknya :D.



Surat untuk Mama dan Papa

Untuk Mama dan Papa yang selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya

Mama, Papa, dalam setiap doaku, aku selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian. Berdoa semoga senantiasa kalian diberi kesehatan, keberkahan, dan kemurahan rezeki. Ma, Pa, terima kasih sudah menjadi orang tua yang hebat. Terima kasih untuk Allah yang sudah memilihkan orang tua terbaik di dunia.

Ma, Pa anak-anakmu ini insyaAllah akan melewati hari dengan bahagia. Terima kasih Mama dan Papa, orang tua terhebat :) .

Dari anakmu yang segera akan jadi sarjana :)


Selasa, 17 September 2013

Nikmatilah Hidupmu ^^

Kita hidup di dunia  ini hanya sementara oleh karena itu nikmatilah hidup. Begitulah kata orang tuaku yang sering aku dengar atau kata orang tua lain yang memang lebih banyak pengalaman hidup dariku :). Tolong bagian ini diartikan positif ya, maksudku di sini adalah toh hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita boleh berusaha, Allahlah yang menentukannya. Kalo kata temenku yang orang jawa jangan terlalu ngoyo. Banyak sekali yang bisa kita nikmati di dunia ini. Yang terpenting nikmatilah sesuatu yang bisa jadi bekalmu di dunia yang lebih kekal nanti. Ah... tentu saja aku masih jauh sekali untuk itu. Tapi aku sedang belajar, belajar bagaimana cara menyenangi hidupku dunia juga belajar bagaimana agar hidupku senang di tempat yang lebih kekal nanti :). *sekali-kali bijak :p*

Sedikit berbicara tentang orang tuaku. Aku beruntung karena mereka tidak pernah memaksakan banyak hal di hidupku ini. Begitupula dengan soal pelajaran, prestasiku, juga pekerjaan yang nantinya akan aku jalani. Mereka tidak pernah memaksaku untuk belajar dan harus dapat nilai sekian, jika nilaiku sekian maka bla bla bla. Untungnya mereka tidak pernah. Tapi lagi-lagi aku beruntung karena papa selalu "memaksaku" untuk mengingat Allah dan mengembalikan semua hal pada Allah.

Kembali lagi pada soal menikmati hidup. Adikku bilang, "Santai aja Deb, orang itu ga sama, kita inikan beda-beda, santai tapi jalani terus." Sebenarnya aku sadar bahwa setiap orang punya "pola" sendiri-sendiri dalam mengerjakan sesuatu, dalam kehidupannya. Aku tentu tidak bisa seperti si A atau si B. Yang perlu aku lakukan ya terus berusaha. Soal bagaimana usahaku, seberapa keras usahaku, ataukah aku terlalu santai mungkin lambat, aku tidak perlu membandingkannya dengan orang lain. Satu yang perlu diingat "banyak jalan menuju Roma". Pepatah ini benar menurutku, karena jalan yang orang tempuh untuk mencapai keinginannya pasti berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tapi yang paling penting adalah hasil akhirnya :).

Curhatan di atas sebenarnya hanya sebagian kecil dari pikiran yang terus berputar-putar di otakku. Sebenarnya aku ingin menulis tentang gelombang negatif dan gelombang positif yang ditransfer seseorang ke lingkungan sekitarnya tanpa dia sadari. Kalau kalian pernah dengar "when you spread good words you spread good energy",  itu benar adanya. Makanya di dunia ini ada profesi motivator :D. Lain kali aku akan menulis tentang hal itu, tapi mungkin harus membaca rujukan lebih banyak lagi hihi :D.

O iya tetap nikmatilah hidup ya, karena hidup ini indah tobeliiiii :D. O iya ingat juga memang nih misalnya kamu lagi kena musibah dan bertanya si A tuh hidupnya seneng mulu si B ga pernah susah,KENAPA? KENAPA?. Hey jangan sotoy! Mereka ga cerita aja ke kamu tentang kesusahan mereka. Dan satu hal yang perlu diingat juga, banyak sekali orang yang dapat cobaan lebih dari kamu. Terus bersyukur dan nikmatilah hidup :D.


Senin, 26 Agustus 2013

Hobi Baru :D


Harum toko ini benar-benar membuatku terperangah, aku... rasanya ingin membeli semuanya!
Ruangan ini begitu sesak dengan ibu-ibu muda, ayuk-ayuk, gadis kecil, bibi tukang kue, mama-mama dan anak perempuannya, juga  nenek-nenek yang terlihat masih segar bugar. Pertama kali memasuki ruangan ini mataku berbinar-binar. Banyak sekali bahan kue yang aku tidak tahu jenisnya tapi begitu menarik mata dan hidungku. Harum mentega, vanili, warna-warni sprinkle, ah... aku sungguh menyukainya! Suatu hari aku juga ingin punya yang seperti ini....

Seharusnya tulisan ini aku poskan beberapa minggu yang lalu, berhubung (lagi-lagi) sok sibuk, haha, aku baru sempat membuatnya sekarang. Bermula ketika aku liburan di Palembang puasa ini. Aku dan Caca yang sudah sejak lama ingin sekali belajar membuat kue, sangat girang saat itu. Mama akhirnya membulatkan tekadnya untuk membeli oven :D, aku merasa menemukan sesuatu yang baru, tentunya hal yang menyenangkan!

Pertama kali oven itu terpanjang di dapur mungil kami, aku langsung browsing resep kue yang mudah dibuat dan bahannya kira-kira bisa ku temukan di JM, supermarket, dekat rumah. Jadilah waktu itu aku memutuskan untuk membuat bolu keju dengan bahan dan cetakan kue seadanya :D.


Ini kue bolu keju yang kata si Caca lebih mirip donat raksasa, haha.
Rasanya lumayan enak loh, hehe. Bolunya pun mengembang sempurna, yeay! Aku senang sekali, karena ini pertama kalinya aku membuat kue sendiri. Biasanya sih cuma liat cicikku bikin kue, paling banter ya bantuin nuang-nuang tepung :D.

Karena, ehem, bolu kejunya lumayan sukses, akhirnya mama berani juga untuk membuat kue kering untuk lebaran. Berbekal resep maknyus dari Ii (panggilan tante untuk orang cina), tetangga kami yang baik hati, akhirnya kami memulainya dengan membuat kue nastar. Kata Ii sih mudah, tapi pas prakteknya aku dan mama cukup kewalahan awal-awalnya, untungnya nih ada bala bantuan dari Caca yang emang dasarnya cekatan kalau kerja, haha.

Dan, tadaaa...
Kue Nastar Mama Bisrah dan Dua Anak Gadisnya yang Caem xD
Ga tanggung-tanggung Mama langsung buat satu kilo tepung, kalau ditambah-tambah sama bahan lain, kira-kira ini hampir dua kilo jadinya :"). Nah, lagi-lagi ini rasanya enaak *hihi memuji diri*. Tapi resep si Ii memang top, soalnya kue nastar ini jadinya mumpur banget, ga keras, meleleh di lidah :D.

Setelah membuat kue ini, kami juga membuat beberapa kue lain seperti putri salju, kue kacang, kacang pedas manis, coco crunch celup coklat, dan kue basah. Khusus untuk kue basah memang agak gagal sih, haha, tapi masih bisa dimakan kok :').

Coco Crunch Celup Coklat Ala-Ala, Ala Ayuk Debby Ding!
Bisa dilihat itu susunannya masih berantakan, juga cupnya maksain pakai cup kue bolu, haha. Tapi rasanya *lagi-lagi* maknyuss, haha. Lebaran nanti kami masih berencana untuk membuat kue kering sendiri. Semoga tampilannya bisa lebih baik lagi ya ;). Ah iya, liburan Januari nanti aku juga ingin belajar masak lagi, masak yang lain, pempek, nasi uduk, ah sepertinya aku mulai menyukai hal ini :D ! Semoga Allah masih memberi rezeki, nikmat, dan juga umur panjang ya untuk umat-Nya ini :). Amiinn.

Kamis, 01 Agustus 2013

Rasanya Seperti Nano-Nano!

Bukankah rasa menyukai itu menakjubkan? Menyukai bukan hanya melulu tentang cinta loh. Rasanya bagaimana menyukai itu? Tidak harus selalu seperti sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuh ketika menatapnya, tidak harus berasa panas dingin karena bertemu dengannya, tidak harus berasa deg-degan ketika diam-diam melirik ke arahnya. Rasanya menyukai itu macam-macam bukan? Seperti permen nano-nano, seperti rasa rujak! Rasanya campur-campur.

Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang sesuatu, seseorang tepatnya. Ah, sebenarnya ini bukan gayaku. Menceritakan tentang seseorang yang kusuka di blog seperti ini. Jangankan di blog yang dibaca orang umum, curhat ke teman saja aku malas, haha.

Tapi entah mengapa aku ingin membuat sedikit tulisan tentang dia. Mungkin tulisan ini akan membuat ku tertawa cekikikan sepuluh tahun mendatang ketika membacanya lagi, haha. Tapi sudahlah, toh tidak ada salahnya menulis tentang seseorang terlebih tentang kebaikannya :).

Dia ini, hmm...sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang dia, bahkan kami tidak pernah dekat bahkan jadi teman pun tidak pernah. Yang aku tahu sejak dulu, dia itu lumayan, hehe lumayan lucu, lumayan cakep. Kelihatannya dia juga baik. Tapi sebelumnya aku tidak pernah menyukainya. Kelihatannya dia malah tidak pernah mentapku kalau kami bertemu. Kami juga belum pernah saling bicara. Dia terlalu pendiam tadinya kupikir, tapi ternyata dia sama saja kok seperti yang lain, suka bercanda, banyak bicara juga. Ya setidaknya itu yang kulihat ketika dia sedang bersama teman-temannya yang sebagiannya juga temanku.

Apa mungkin dia tidak menyukaiku? Ah sudahlah pikirku waktu itu, toh aku ini hanya anak baru, dia tidak menindasku saja sudah bagus. Sedikit melenceng dari topik aku akan sedikit bercerita tentang kehidupan menjadi anak baru. Sebenarnya tidak bisa dibilang mudah tapi jangan juga dianggap susah. Dari beberapa pengalamanku jadi anak baru tentu ada senangnya tapi ada juga sedihnya. Pernah juga aku dipojokkan oleh suatu genk. Kau tahu, apa yang ingin sekali aku teriakkan ke telinga mereka pada saat itu? "WOY JANGAN KEBANYAKAN NONTON SINETRON PLIS!" Aku tidak habis pikir, mungkin menurut mereka menindas anak baru adalah hal yang keren seperti yang di tv itu. What the...! Haha sudahlah, itu hanya masa lalu.

Balik lagi ke dia, hmm sebut saja Mr. U, hehe. Liburan ini aku bertemu dengannya. Waktu itu kebetulan kami menghadiri acara yang sama, ia datang duluan. Ketika aku datang, aku langsung lirik kanan kiri, bingung mau duduk di mana. Sektika si Mr. U, langsung berdiri dari tempat duduknya dan menawariku untuk duduk di sana.Waktu itu dia bilang, "duduk di sini saja". Namun, aku masih kebingungan dan belum juga menempati tempat duduk itu. Dia melirik sekilas ke arah kursi itu dan tanpa di suruh dia langsung menyingkirkan benda yang ada di atasnya. Sebenarnya alasanku tidak duduk sih karena tidak enak padanya. Jadi buru-buru sebelum dia selesai menyingkirkan benda yang ada di atas kursi, aku bilang, "tidak usah saja, aku duduk di bawah saja".

Aku kemudian berpikir, dia ini baik juga. Kalau hanya menyingkir dari tempat duduk agar aku bisa duduk itu namanya gentleman kan ya.Tapi dia juga respect dengan tingkah bingungku. Padahal kami mungkin berteman saja tidak, hanya setingkat kenalanlah hubungan kami.

Aku menyukainya, cara dia respect terhadap orang lain maksudku. Kau tahu, bagiku, hal kecil seperti itu, manis sekali. Mungkin dia tidak hanya melakukannya untukku saja tapi pada semua orang. Mr. U, kau tahu, aku mengagumimu dan menyukai sikapmu :). Seharusnya kita berteman lebih awal ya. Kalau sekarang kita mulai berteman, mungkin tidak bisa, karena bisa menimbulkan kesalahpahaman. Mr. U, untuk waktu dekat ini aku mungkin akan menjadi fansmu, hehe. Ini adalah rasa suka yang aku maksud. Aku  menyukainya karena aku merasa dihargai.

Mr. U, kalau nanti ada kesempatan kita untuk berteman, mungkin kita bisa menjadi teman baik :).



Suku Pasemahku Tercinta


Indonesia adalah Negara yang kaya dengan budaya. Daerah Indonesia yang luas, terdiri dari sabang sampai merauke, tentu memiliki beragam suku. Hal inilah yang membuat Indonesia memiliki kebudayaan yang beraneka ragam. Dalam satu provinsi saja, Indonesia bisa memiliki lebih dari satu suku. Misalnya di Kalimantan Tengah, kita bisa menemukan Suku Ot Danum, Suku Dusun, Suku Maanyan, dan Suku Lawangan, sedangkan di Sumatera Selatan kita dapat menemukan Suku, Palembang, Suku Sekayu, Suku Semendo, Suku Daya, Suku Dumai, Suku Kayu Agung, Suku Komering,  Suku Ogan, Suku Pasemah, dan beberapa suku lain.
Bayangkan betapa kayanya kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Pada penejlasan di atas, saya hanya menyebutkan dua provinsi di Indonesia. Namun, sudah berapa suku yang saya sebutkan ada di kedua provinsi tersebut? Sudah ada 13 suku yang saya sebutkan. Hal ini membuktikan bahwa suku di Indonesia sangat beragam.
Namun, umumnya masyarakat Indonesia hanya mengenal beberapa suku besar saja, seperti Suku Minang, Batak, Jawa, dan Sunda. Sebagian besar dari masyarakat Indonesia kurang mengenal bahkan tidak pernah mendengar nama-nama suku yang saya sebutkan di atas.
Kenyataan ini sungguh merupakan hal yang sangat disayangkan. Sudah saatnya bagi kita warga Indonesia untuk menyadari pentingnya potensi keberagaman suku dan budaya di Indonesia. Dari sebuah suku saja ada beragam kesenian, makanan tradisional, sistem pengetahuan, kerajinan, dan lain-lain. Jika satu provinsi saja memilik dua suku dan satu suku punya dua makanan khas daerahnya, maka ada berapa makanan tradisional yang ada di Indonesia? Beragam bukan!
Oleh karena itu, Indonesia adalah Negara yang kaya akan budaya. Kekayaan budaya ini hendaknya dijaga dan dilestarikan oleh anak bangsa. Kita sebagai penerus bangsa tidak boleh malu akan budaya sendiri. Banggalah jadi bangsa yang kaya akan budaya.
Keberagaman suku dan kebudayaannya di Indonesia ini membuat penulis ingin membahas kebudayaan salah satu suku di Indonesia yaitu Suku Pasemah. Penulisan akan memfokuskan pembahasan pada kuliner asli Suku Pasemah, yaitu lemang. Lemang yang lebih dikenal sebagai makanan Malaysia ini ternyata adalah makanan tradisional Suku Pasemah. Oleh karena itu penulis ingin  agar masyarakat Indonesia lebih mengenal tentang kebudayaan Suku Pasemah, yang akan penulis sampaikan melalui makanan tardisional.

Lemang, Kuliner Jeme Kite, Suku Pasemah

Adakah dari kalian yang pernah mendengar kata PASEMAH? Mungkin di telinga kita nama ini tidak setenar Batak, Jawa, Sunda, Dayak, Banten, Minang, dan Kubu. Ya, Pasemah adalah nama salah satu suku di Indonesia. Pasemah memang tidak sepopuler suku-suku lain. Bahkan mungkin hanya sedikit dari orang Indonesia yang pernah mendengar tentang Suku Pasemah.
Suku Pasemah adalah suku yang tinggal di perbatasan Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah pemukiman suku Pasemah meliputi daerah sekitar kota Pagar Alam, kecamatan Jarai, Kecamatan Tanjung Sakti dan daerah sekitar Kota Gunung Agung, Kabupaten Lahat. Wilayah pemukiman suku Pasemah ini berada dekat sekitar kaki Gunung Dempo. Sebenarnya nama suku ini adalah Suku Besemah namun orang lebih akrab denga sebutan Pasemah.
Sebagai salah satu keturunan Suku Pasemah saya sebenarnya juga kurang mengenal tentang suku ini. Bermula dari keheranan saya ketika melihat salah satu saudara sepupu saya memakai akun facebook dengan nama belakang Besemah. Saya kira itu sejenis nama gaul yang biasa digunakan anak-anak jaman sekarang untuk menamai akun facebook-nya. Namun saya bertambah heran ketika saya melihat beberapa pengguna facebook lain juga menggunakan Besemah sebagai nama belakang akun facebook-nya. Awalnya saya kira, Besemah adalah salah satu nama perkumpulan atau organisasi pemuda di Pagar Alam, karena saya juga menemukan grup di facebook dengan nama Jeme Besemah.
Penasaran, akhirnya saya menilik lebih jauh melalui internet. Dari pencarian dan browsing di beberapa situs, saya menemukan bahwa Besemah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pasemah ini adalah nama suku di kota Pagar Alam dan daerah sekitarnya.
Kedua orang tua saya, mama berasal dari Pagar Alam, dan papa berasal dari Lahat, memang tidak pernah menceritakan ataupun menyinggung tentang Pasemah sebelumnya. Mama adalah orang asli Pagar Alam yang mengahbiskan masa kecilnya di Desa Tanjung Sakti, sebuah desa kecil di Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sedangkan papa memang berasal dari Lahat, namun papa lahir dan tumbuh di Palembang, karena kedua orang tuanya sudah hijrah ke Palembang sejak menikah dan meniti karir di sana.

Saya sendiri, adalah orang Palembang yang besar di perantauan. Saya memang lahir di Palembang, namun saat saya berusia tiga tahun, mama dan papa memboyong saya dan adik ke Padang untuk merantau. Kemudian, kami juga merantau menyebrangi selat sunda, ke Pulau Jawa sana. Tahun-tahun saya banyak saya habiskan di kota orang. Hal ini merupakan pengalaman yang menyenangkan namun sempat membuat saya tidak mengenal kota kelahiran sendiri juga.
Mama dan papa tidak pernah menceritakan tentang tempat kelahirannya itu. Mendongeng tentang masa kecil mereka, bahkan menceritakan tentang kakek dan nenekpun tak pernah. Saya hanya mengenal sosok kakek dan nenek dari garis keturunan mama ketika sesekali berkunjung saat lebaran ke Tanjung Sakti dan hanya mengenal sosok kakek dan nenek dari garis keturunan papa dari foto kakek dan nenek di rumah lama tempat papa dan kakak beradiknya tumbuh besar.
Setelah mengetahui tentang Suku Pasemah ini, saya iseng bertanya langsung pada mama yang memang menghabiskan masa kecilnya di sana. Mama ternyata, juga tidak tahu banyak tentang suku ini. Mama tidak tahu asal mereka dari mana. Yang mama tahu bahwa pekerjaan mereka sebagian besar adalah bertani. Mama bilang orang Pasemah banyak yang mirip cina karena memiliki kulit putih dan garis muka mirip rumpun cina namun sebagian besar dari mereka sudah punya lipatan kelopak mata, jadi tidak terlalu sipit seperti orang cina asli. Beberapa di antara mereka juga ada yang tampan dengan hidung mancung dan cantik semampai karena mungkin pernah memiliki keturunan dari Belanda yang pernah singgah dan sempat menetap di daerah Pagar Alam dan sekitarnya.
Namun untuk bahasa, orang Pasemah menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Malaysia (Melayu), namun tidak menghilangkan unsur bahasa Palembang. Berbeda dengan bahasa Palembang yang menggunakan akhiran o pada pengucapan beberapa kata, orang Pasemah menggunakan akhiran e, lebih seperti bahasa Melayu. Contohnya, kite ni jeme Pasemah (kami adalah orang Pasemah) dan Ninek nak becantik kudai (Nenek mau berdandan dulu). Orang Palembang biasanya menyebut logat seperti ini dengan bahasa dusun yang artinya bahasa daerah.
Tentang asal usul suku Pasemah sendiri sampai sekarang masih abu-abu. Dari beberapa situs di internet, saya mendapati bahwa ada legenda yang menceritakan bahwa nenek moyang Suku Pasemah adalah Atong Bungsu.
Menurut masyarakat suku Pasemah, asal usul mereka diawali dengan kedatangan Atong Bungsu, sebagai nenek moyang orang Pasemah Lampik Empat, yang datang dari Hindia Muka, yang memasuki wilayah Sumatra Selatan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling. Pada saat kedatangan si Atong Bungsu, ternyata sudah ada dua suku yang terlebih dahulu menempati daerah itu, yaitu suku Penjalang dan suku Semidang. Mereka bersepakat untuk sepanjang hidup sampai anak keturunan tidak akan mengganggu dalam segala hal. Atong Bungsu menikah dengan putri Ratu Benuakeling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melalui keturunannya Puyang Diwate, Puyang Mandulike, Puyang Sake Semenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seghatus dan Puyang Sake Seketi, menjadi suatu kelompok masyarakat Jagat Besemah atau yang disebut sekarang sebagai suku Besemah ("Lemang," 2013).
Menurut beberapa situs di internet, Atong Bungsu berasaal dari Majapahit namun hal ini tidak bisa dibenarkan jika ditinjau dari segi sejarah. Hal itu dikarenakan orang Pasemah atau Besemah, telah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya atau bahkan sebelum masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad 6. Sedangkan Majapahit baru ada sejak abad 12.
Meski tidak tahu banyak tentang asal usul orang Pasemah. Mama memperkenalkanku dengan beberapa makanan tradisional orang Pasemah. Pernah suatu ketika di depan rumah nenek, aku melihat orang beramai-ramai mengaduk wajan super besar berisi cairan kental hitam di bawah terik sinar matahari. Mama bilang mereka sedang membuat lempok. Pada waktu itu, makcik-ku akan menikah dan kami akan mengadakan hajatan. Seperti kebanyakan orang desa lainnya, Suku Pasemah saling bahu-membahu memasak ketika suatu rumah akan mengadakan hajatan. Lempok yang dimasak mereka tadi adalah dodol duren. Dodol duren ini harganya tergolong mahal jika dijual di pasaran karena bahan baku pembuatannya sebagian besar terdiri dari duren.
Makanan tradisional Suku Pasemah lain yang terbuat dari durian adalah tempoyak. Tempoyak adalah durian yang difermentasikan. Rasanya asam, namun enak menggugah selera makan bagi penikmat durian. Tempoyak biasa dicampur dengan sambal, sehinggal orang Sumatera Selatan mengenal sambal tempoyak. Sambal tempoyak ini selain bisa disantap langsung sebagai teman makan nasi juga bisa diolah lagi, misalnya untuk bumbu pepes ikan.
Selain lempok dan tempoyak, aku juga mengenal lemang. Lemang adalah kudapan jeme Pasemah. Lemang terbuat dari beras ketan. Dulu nenekku sering membuat ini di bulan puasa. Rasanya gurih dan enak. Aroma gosong bekas pembakaran menambah lezat kudapan lemang ini.
Lemang dibuat dengan cara memasukkan beras ketan ke dalam bambu muda. Beras ketan tadi dicampur dengan santan, air secukupnya, dan juga garam lalu dibakar dengan menggunakan kayu bakar. Proses pembakarannya sekitar setengah jam dengan menggunakan api kecil.
Masyarakat Pasemah membuat kudapan lemang ini karena, daerah Pasemah yang masih dikelilingi banyak hutan, banyak ditumbuhi bambu liar. Lemang ini adalah ketan bakar khas Pasemah. Lemang sangat cocok menjadi kudapan orang Pasemah, karena daerah Pasemah yang terletak di Pegunungan, memang berudara dingin. Di sini, lemang biasanya disantap bersama tapai atau bisa juga dengan pisang goreng hangat dan secangkir kopi panas. Kopi panas dan pisang goreng hangat yang disantap bersama lemang, memang sangatlah cocok untuk menghangatkan perut di saat cuaca dingin.



Lemang ini bisa dimakan dengan kudapan lain. Orang-orang di kampung saya terkadang menyantapnya bersama durian, sewaktu musim panen durian tiba. Namun, sebenarnya lemang sudah terasa nikmat walaupun tidak ditemani kudapan lain. Rasanya yang gurih cocok sekali dengan lidah orang melayu dan sumatera.

Di Palembang, lemang biasa disantap bersama dengan srikayo ataupun sambal ingkong. Kedua makanan ini sangat berbeda rasanya. Srikayo adalah kudapan manis, sedangkan sambel ingkong rasanya asin. Namun keduanya cocok sebagai teman ketika menyantap lemang.  Srikayo yang rasanya sangat manis, karena terbuat dari telur bebek dan gula, akan menghasilkan kombinasi yang pas di lidah jika dimakan bersama lemang. Sedangkan sambal ingkong, yang wujudnya seperti abon ikan, dapat dimakan seperti lauk jika dimakan dengan lemang.
Makanan lemang ini juga ada di Padang. Orang Padang menyebutya dengan lamang. Mereka biasa memakannya dengan rendang. Namun lemang orang Pasemah sedikit berbeda dengan lamang orang minang. Selain cara memakannya yang beda, cara pembuatnnya pun juga sedikit berbeda. Lamang padang, menggunakan bambu yang diameternya sedikit lebih besar dari pada lemang Pasemah. Orang Pasemah menggunakann diameter  bambu seukuran tangan anak kecil. Perbedaan lain ialah, lamang Padang yang menggunakan daun pisang sebagai lapisan dalam bambu, sebelum memasukkan ketan ke dalamnya. Sedangkan orang Pasemah biasanya memasak lemang tanpa menggunakan lapisan apa-apa di dalam bambu.
Di wikipedia, saya menemukan bahwa lemang adalah makanan khas Malaysia. “Lemang is a traditional Malaysian food made of glutinous rice, coconut milk and salt, and cooked in a hollowed bamboo stick lined with banana leaves in order to prevent the rice from sticking to the bamboo” ("Lemang," 2013).  Kemungkinan, dunia hanya mengetahui bahwa lemang adalah makanan khas dari Malaysia. Padahal, salah satu suku di Indonesia, yaitu suku PASEMAH, telah membuat lemang sejak lama. Makanan ini, sudah layaknya menjadi makanan khas dari suku Pasemah. Memang tidak bisa dipungkiri, ada kemungkinan bahwa suku Pasemah dan orang Malaysia mempunyai akar suku yang sama, sehingga makanan tradisionalnya pun bisa sama. Tetapi sebagai warga Indonesia, kita harus menjaga budaya bangsa, termasuk makanan tradisional Suku Pasemah ini.
Membiarkan Negara lain, mengklaim makanan khas suku di Indonesia sebagai makanan khas mereka bukanlah hal yang benar. Hal ini akan menghilangkan eksisitensi dari Suku Pasemah. Keberadaan Suku Pasemah seharusnya mulai diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Tidak menutup kemungkinan untuk mengenalkan Suku Pasemah ini ke mata dunia juga. Sebaiknya makanan tradisional seperti lemang, yang mungkin memang berasal dari suku melayu, tidak

diklaim oleh hanya satu Negara saja. Hal ini tentu tidak adil bagi suku Pasemah. Memperkenalkan lemang sebagai makanan khas melayu menurut saya lebih baik. Selain menghindari perselisihan dua Negara serumpun, Indonesia dan Malaysia, kita juga dapat memperkenalkan suku Melayu sebagai satu suku besar dengan beragam suku kecil seperti Pasemah ke mata dunia.


Mempertahankan budaya dari suatu suku agar tidak diklaim oleh Negara lain untuk melestarikan suku tersebut juga berlaku bagi, suku-suku kecil lain di Indonesia. Oleh karena itu, hendaknya, kita jangan bersikap acuh tak acuh tentang pengetahuan budaya bangsa sendiri. Dengan budaya yang kaya, kita sebenarnya memiliki banyak modal untuk mengenalkan Indonseia di kancah Internasional. Suku, seperti Suku Pasemah, yang memiliki beragam kearifan lokal, wajib kita jaga dan lestarikan. Dengan mengenalkan LEMANG sebagai kuliner jeme kite akan membuat masyarakat Indonesia kenal pula dengan Suku Pasemah itu sendiri.

Kuliner lemang ini mungkin bisa dikemas dengan lebih menarik lagi, agar menarik perhatian masayarakat luas. Jika masyarakat tertarik dengan kuliner ini, bukan tidak mungkin, kuliner seperti lempok dan tempoyak yang juga berasal dari Pasemah juga dapat menarik perhatian masyarakat luas untuk mencobanya. Dari kuliner inilah, biasanya akan muncul ketertarikan untuk mempelajari budaya Pasemah juga bahasanya. Oleh karena itu, makanan tradisional, seperti lemang ini, ikut berperan dalam mempertahankan eksistensi suatu suku.
 
DAFTAR PUSTAKA
Lemang [Electronic. (2013). Version], from http://id.wikipedia.org/wiki/Lemang
Lemang [Electronic. (2013). Version], from http://en.wikipedia.org/wiki/Lemang
Rismon, J. (2013). SEJARAH ADAT ISTIADAT JEME SEMENDE [Electronic Version], from http://putrasemende.blogspot.com/
SEJARAH SUKU BESEMAH [Electronic. (2011). Version], from http://adekabang.wordpress.com/2011/01/29/sejarah-suku-besemah/
Suku Pasemah (Besemah) [Electronic. (2013). Version], from http://protomalayans.blogspot.com/2012/07/suku-pasemah-besemah.html
TUGAS SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA SUKU PASEMAH BENGKULU [Electronic. (2011). Version], from http://www.scribd.com/doc/57214159/SUKU-PASEMAH
Wongkito, U. (2013). Wongkito: Suku Besemah [Electronic Version], from http://badahwongkito.blogspot.com/2012/07/suku-besemah-suatu-terminology-lebih.html



Jumat, 24 Mei 2013

Sosial Media, Lama-Lama Bikin Bosen Ya

Pernah denger orang yang punya smartphone tapi tidak suka memakainya atau bahkan berdampak negatif bagi dirinya sendiri? Ya sayalah salah satu orangnya. Saya pernah menjadi salah satu pengguna blackberry namun saya kurang menyukai menghabiskan waktu dengan bbm-an. Entah mengapa, saya merasa ngobrol dan bertemu langsung lebih menyenangkan.

Belakangan ini saya menyadari bahwa semakin sering saya melihat timeline di twitter semakin sering juga hati saya tidak tenang. Pernah suatu waktu saya jarang sekali melihat timeline twitter. Memang saya ketinggalan beberapa informasi, namun setidaknya pikiran saya tidak disibukkan dengan 'memata-matai' urusan orang lain melalui twitter. Kegiatan ini membuat saya sangat lelah namun tetap ingin melakukannya. Ini seperti ketagihan, ingin berhenti namun tidak bisa. Tidak jarang saya merasa kesal dengan suatu tulisan tapi tetap ingin menulusuri tentang tulisan itu. Alhasil saya menjadi lebih kesal lagi.

Ketika saya jarang menghabiskan waktu saya bersama media sosial, sebut saja instagram, twitter, path, dan masih banyak lagi, saya merasa lebih bisa melakukan banyak hal. Membereskan kamar yang biasanya butuh waktu 1-1,5 jam dapat saya lakukan dalam waktu setengah jam. Dan hal yang paling penting adalah saya bisa tidur nyenyak. Hal ini terjadi mungkin karena otak saya tidak terlalu banyak merekam informasi yang 'negatif' untuk saya sendiri, sehingga ketika tidur saya merasa lebih damai.

By the way, lepas dari BB sekarang saya adalah pengguna android. Mungkinkah ini yang disebut dengan paralysis? Membencinya tapi tidak bisa keluar dari sana. Yah walaupun untuk sementara saya belum bisa lepas dari 'ketagihan' akan sosial media, tapi saya berusaha untuk meminimalisasinya. Memperingatkan diri sendiri akan dampak negatifnya adalah salah satu upaya saya, dengan tulisan ini contohnya. Harapannya, saya akan merasa malu jika terus-menerus menyiksa diri karena 'ketagihan' akan sosial media tadi, setelah membaca tulisan yang saya buat sendiri ini.


Rabu, 22 Mei 2013

Jangan Mengambil Keputusan Saat Kesal, Menulis Boleh


Teruntuk Engkau yang Telanjur 'Merasa' Masyhur
Oleh: Debby

Rantai itu menjuntai kian panjang
Terajut cerita yang kadang indah namun banyak nestapa
Belum ku lihat ujungnya
Atau mungkin tak ada ujungnya

Membelenggu banyak jiwa
Membuat sesak ribuaan hati
Membunuh banyak karakter
Walau kadang menjaga 'mereka' untuk tidak ke luar dari lingkar

Derai hujan menambah dingin si onggokan daging
yang terantai itu
Yah, onggokan daging,
hanya onggokan daging

Mereka terantai dengan kesombongan
Terbelenggu dengan materi
Haus akan pamor
Buta akan kasih sayang

Melalak jika melihat emas
Mencibir jika melihat lumpur
Mereka telah dirantai
Dengan terlalu kuat

Kamis, 14 Maret 2013

Terima Kasih Ya, Kalian Baik Sekali :)

Pos malam ini isinya cuma mau berterima kasih saja. 

Terima kasih untuk Allah yang telah memberikan kesempatan hidup bagiku sehingga bisa melihat dunia ini, bisa memanggil mama dan papa, bisa merasakan senangnya punya adik-adik yang baik, pengertian, dan pintar-pintar, bisa tertawa bersama teman-teman, bisa bergosip, karaoke, bisa mencicipi kelezatan pempek, gudeg, juga duren, walau terkadang menangis tapi itu patut juga disyukuri. Terima kasih juga untuk limpahan nikmat dan rejeki dari Allah yang tiada hentinya pada ku, keluarga, dan orang-orang terkasih di sekitarku.

Terima kasih untuk yang selama ini aku repotkan, terutama mama, papa, dan adik-adik. Terima kasih sudah baik sekali dan saling mendukung satu sama lain. Senang sekali mendengar suara kalian di telpon, senang sekali melihat wajah kalian ketika aku punya kesempatan pulang.

Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan Allah pada ku untuk menetap di beberapa kota di Indonesia. Senang sekali bisa berbahasa jawa, sunda, medan, palembang, dan mengerti sedikit bahasa padang. Senang sekali karena punya kesempatan belajar tarian dari jawa, palembang dan padang. Walaupun aku sudah lupa gerakan-gerakannya tapi pengalaman tersebut setidaknya membuatku punya sedikit basic menari, ya jadi ga kaku-kaku amatlah, hehe. Senang sekali karena pernah belajar tembang jawa, pupuh sunda, lagu minang dan batak. Senang sekali karena bertemu banyak kenalan dengan berbagai sifat.

Terima kasih untuk semuanya. Teman-teman yang sudah mau mendengarkan aku, berbagi cerita denganku, mengenal sifatku lebih jauh, membantuku memperbaiki kekuranganku, tertawa bersamaku, menawarkan makanan padaku, tersenyum padaku, memaklumiku ketika sedang kesal, memujiku ketika panik karena melakukan kesalahan kecil saat mengerjakan sesuatu, membantuku belajar, menasehatiku tentang agama, mengingatkanku untuk shalat, menerima sifat polosku ini, terima kasih kepada mereka semua.

Terima kasih juga pada mereka yang salah paham padaku. Mereka memberikan beberapa pelajaran bagiku. Membantuku untuk lebih kuat, membantuku untuk terus tersenyum, mengingatkanku untuk lebih menghargai mereka yang sudah banyak membantuku, mengingatkanku untuk jangan terlalu memikirkan sesuatu, kalian membantuku untuk jadi hebat dan kuat.

Aku akan terus bersyukur sambil terus memperbaiki diri ini. Tersenyum menjalani hidup dan yakin Allah akan memberikan yang terbaik.

Terima kasih, hidup ini akan selalu indah kalau kita bersyukur :)

Kamis, 28 Februari 2013

Jodoh


"Jodoh itu tergantung pada diri kita sendiri, bila kita berperilaku baik, maka jodoh kitapun baik, jika perilaku kita buruk, maka jangan dipersalahkan jika jodoh kitapun berperilaku buruk."

Pos yang akhirnya dengan besar hati berani saya poskan juga :)

Jodoh? Where Are You Now?

Dari judulnya, kesannya kok saya kayak desperate banget ya soal jodoh ini, haha. Sebenarnya tidak juga sih, malahan tadinya saya tidak terlalu ambil pusing dengan hal ini. Tetapi akhir-akhir ini, tepatnya semenjak pulang KKN saya kok jadi mikir-mikir ya tentang ini . Waktu KKN, saya bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai fakultas. Seperti yang sudah saya ceritakan di pos sebelum, mereka dengan beragam sifatnya adalah orang-orang yang menyenangkan. Pengalaman KKN ini sedikit banyak mengubah diri saya,. Lah kok bisa, Deb? 

Bertemu dengan teman-teman baru telah membuka pikiran saya, mengembalikan sikap saya seperti semula, sebelum saya kuliah di jurusan ini. Kata teman saya, saya terlihat lebih bahagia sekarang. Dia bilang, sekarang saya sudah tidak lemes-lemes lagi, gak kayak orang sakit lagi, segeran sekarang.Saya mungkin tidak sadar kalau saya sudah jadi lebih bahagia, kalau dia gak bilang begitu. Tapi yang saya sadari adalah saya jadi lebih terbuka dan mau bergaul. Saya jadi lebih ramah, senang tersenyum, menyapa orang duluan, tersenyum pada ibu yang duduk di samping saya ketika sedang menunggu antrian di dokter, mengucapkan terima kasih ketika mengambil kembalian beli bubur ayam, bilang "mari bu" sambil tersenyum ke arah ibu di klinik tadi ketika saya sudah selesai diperiksa dokter, juga menyapa tetangga kamar sebelah kosan. Sudah berapa lama saya tidak melakukan hal-hal kecil yang ternyata bisa membuat hari saya jadi lebih positif ini? Dua setengah tahun, hmm.. waktu yang cukup lama bukan?

Tidak terasa waktu dua setengah tahun sudah berlalu semenjak pertama saya lulus SMA dan sekarang saya sudah 20 tahun saja. Ngomong-ngomong soal SMA, ini kata-kata aneh yang akhir-akhir ini kadang suka tidak sengaja saya ceploskan, "kehidupan percintaan menjadi suram sejak lulus dari SMA" haha beneran kalimat ini aneh sekali.. KKN ini seperti alarm buat saya. Ketika KKN, saya melihat berbagai teman cewek saya serta beragam cerita tentang mereka dengan pasangannya. Mendengar cerita mereka dengan pasangan masing-masing saya sebenarnya sedikit iri tapi lebih banyak introspeksi dirinya sih. Saya perhatikan sikap mereka satu persatu, saya jadi sadar kalo selama ini saya lupa untuk jadi perempuan, lupa untuk merawat diri, lupa untuk bersikap ramah, juga lupa caranya berbicara dengan laki-laki. 

Ketika pulang dari KKN saya sempat ngobrol sedikit dengan teman saya di kosannya, ini nih kutipan percakapan kami:

R : Iya ya bon, kita sudah 20 tahun, jadinya kepikiran tentang itu.
D: Sebenernya apa ya yang salah? Wajah juga nggak jelek-jelek amat haha.
R: Haha, kita ini kurang bergaul.
D: Pengen deh kayak A, udah klop banget sama cowoknya.
R: Iya, tapi gimana ketemu yang kayak gitu. Si A mah ketemu cowoknya di FB, teman lamanya. Lah sekarang yang di FB semuanya alay-alay Bon --".
D: Ya kali kita mau sama orang yang nama FBnya panjang dan gaje itu, hemeh-hemeh.

Aku sih sebenarnya sudah tidak ingin cari cowok lagi, carinya ya jodoh. Ini sebenarnya udah tercetus dari pertama kali lulus SMA. Pengennya dapet yang serius dan langsung cocok dari segala aspek. Tapi ternyata gak semudah yang dipikirkan. Ngomong-ngomong soal jodoh, berhubungan sama kutipan di bagian awal, kayaknya masih banyak yang harus aku perbaiki. Kebetulan menemukan artikel di http://ardiz.blogspot.com/2008/07/amalan-dapat-jodoh-terbaik-oleh-ust.html waktu lagi browsing. Semoga bisa aku terapkan dengan sebaik-baiknya. Amin :)


Minggu, 17 Februari 2013

KKN, Love It or Not?

Keluarga KKNM Babakansari 2013 bersama Ibu DPL
Tempat : Rumah Bulur, where happiness, gossip, business, and friendship have become part of us for a month. Hemeh hemeh~


Living with 20 strangers for a month ,actually, is not as difficult as I thought before. At first, I thought that this activity would totally ruin my holiday. As usual, when holiday comes I prefer to go back to Palembang. However in this holiday I should go to a small village named Babakansari to do such a new activity, KKN. "A MONTH", I sighed heavily when I first heard that I would spend a month for this activity.Maybe it's too long for me. Besides I missed my family so much I also needed holiday after I finished the fifth semester.

However, I had to do KKN. In first and second day,  those people were still strangers for me. Some of them even hadn't knew my name yet but it's not the problem. For me, being ignored sometimes can be tolerated. I just missed my mother, father, brothers, and my sister so much. I couldn't deny this feeling. It was my big problem. I was even envious my best friend, Rika, that could get together with her family in this holiday.

Luckily, this condition just ended in the third day. I started to feel comfortable with these people. They suited me or I just suited them. I felt that they accepted me as a part of their lives at that time. I liked the way they smiled, I liked when they talked to me, I liked when they shared food to me, I liked the way they called my name, and I even liked the way they mocked me.

KKN has brought happiness to me. My mother, my aunt, and my friends said that I looked happier at that time. Everything ,that I did, showed that I loved KKN so much. I loved meeting them, my new friends. Actually, I have gone out from my safe zone. I felt comfortable to show freely what I felt. I couldn't do it before. I just felt that my environment couldn't accepted me if I did it.

Finally, I tried a new experience after two and a half years I stayed in the flat world. I thank God for the opportunity to do this experience and to meet them. I thank you all guys, my new family :). I can't deny that not every day was a good day but this month was pleased enough for me. Thank you KKNM Babakansari 2013 :D.

Sabtu, 05 Januari 2013

TROUBLE IS A FRIEND: Secret

Secret, something that you don't want others know but you couldn't refrain to tell it. Secret, sometimes, can hurt you. If you keep it by yourself, maybe it will hurt you more. So, what should you do? How about writing? My lecturer said that writing can heal trauma. Is it right? I don't know. Maybe you can try it.When I was a kid I really liked writing and reading. I wrote many things in my diary, most of them were poetries. When I was in elementary school, my teacher asked my friends and I to read a poetry. We could make it by ourselves but we could also read others' poetry. I thought it was very fun, so I chose to make a poetry by myself. By the way, it's not the topic that I want to talk. And talking about writing that can heal trauma, maybe my lecturer is right. I remembered I wrote in my diary not only when I felt happy but also when I felt sad or angry. After that I would feel better. However, for me it will never solve problem so I rarely do it now. Don't worry, you still can try it, maybe it works on you :).

TROUBLE IS A FRIEND: Best friend? Huh?

Lagu dari Lenka ini bener banget deh. Trouble is a friend, best friend mungkin? Hidup siapa sih yang sempurna? Pasti setiap orang punya masalah.Kadang mereka memilih curhat dengan teman, orang tua, pacar, atau mungkin dengan neneknya :). Tapi beberapa di antara mereka tidak cukup percaya atau tidak cukup berani untuk berbagi dengan orang lain. Mungkin menurut mereka akan lebih baik jika mereka menyimpannya sendiri. Kadang kupikir keputusan seperti ini ada benarnya juga. Ketika menceritakan rahasia kepada orang lain, yah kita harus pilih-pilih juga, sekalipun dengan orang yang paling kita percaya. Seberapa pentingnya orang lain tahu tentang itu, akankah kita lebih terluka apabila berbagi dengan mereka, atau malah justru lega.

Kalau saya sih lebih memilih jadi pendengar dari pada jadi pencerita. Semakin saya cerita, semakin sedih dan kacau hati saya, terlebih jika tanggapan "si teman curhat" tidak seperti yang saya harapkan. Kok jadi mellow gini ya? :D. Tapi kalau sama keluarga saya cerita banyak, kadang-kadang sampai membuat mereka pusing dan bosan karena diulang-ulang, haha. Intinya saya susah menahan diri untuk tidak curhat kalau sudah ketemu mama, papa, bahkan adik. Mungkin karena saya percaya mereka ya. Ngomong-ngomong sebenarnya ini jadi salah satu kebiasaan buruk saya juga. "Curhat keseringan" itu akan memberatkan pikiran mereka, membuat mereka khawatir. Saya harus belajar nih menahan diri untuk tidak terlalu cerewet, belajar menyimpan rahasia ceritanya :).

Ngomong-ngomong soal rahasia, saya baru saja tahu tentang sesuatu *ah absurd sekali kata-katanya*. "Apa itu Deb?" Tentu saja saya tidak bisa menceritakannya di sini, karena itu adalah RAHASIA. Tapi saya merasa sedih ketika mengetahui tentang hal ini. Saya cuma bisa berharap semoga selalu ada kebahagiaan untuk dia, amiin.

***
Pos malam ini diakhiri dengan doa untuk mama, papa, adik-adik, dan juga saya. Semoga sehat selalu, murah rejekinya, rukun, sukses, dan saling menyayangi dan melindungi, amiin.

Poetry


Dear, Mr. and Mrs. G

By: Debby Sheilla Saputri 


Dear You, Mr. and Mrs. G
You were the best actors ever
You act and said Oh Gee Oh Gee!
But you look calm like a river
You said that you have solution
Wait, but you’re too calm, no action

You work like players in a play
Wearing good clothes and nice makeup
We clap and clap for your first say
Beautiful words that raise us up
We choose you, for better future
Make better play in this nature

Hope you can play our scenario
But you’re never, never to try
You make your own scenario
A Story, where you never die
Where you’re the king of the jungle
We’re servants that try to giggle

But it is not really a smile
We even try to speak to you
To speak that you play the wrong file
You said, watch and enjoy this view
Mr. and Mrs. G, please stop!
Bad actors never reach the top.




Rabu, 19 Desember 2012

Indonesia dan Korupsi


KORUPSI: “Saya Hanya Segelintir Dari Mereka yang Belum Bisa Berbuat Banyak”
“Saya hanya segelintir dari rakyat Indonesia yang turut prihatin dengan keadaan korupsi di Indonesia. Tapi apa yang bisa saya lakukan?”
Saya bukanlah orang yang aktif dalam bidang politik maupun organisasi. Saya hanya si pencermat pasif yang akan menghela nafas panjang saat menyaksikan banyak kasus buruk yang menimpa Indonesia. Kasus yang sering saya lihat di televisi belakangan ini salah satunya ialah kasus korupsi. Korupsi di Indonesia sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Namun belum banyak usaha efektif yang dilakukan untuk memberantas korupsi. Bahkan, dewasa ini korupsi di Indonesia kian hari keadaannya kian memprihatinkan saja.

“Korupsi sendiri berasal dari bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok atau rasuah adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.” ("Korupsi," 2012).

Menjamurnya tindakan korupsi di Indonesia dapat dilihat dengan berseliwerannya tersangka korupsi di layar kaca televisi kita. Pelakunya pun beragam, misalnya pejabat daerah, anggota DPR, dan pejabat Kejaksaan Agung.

Korupsi adalah tindakan yang berkontribusi besar sebagai katalis kebobrokan bangsa. Keadaan korup yang kian parah ini merugikan rakyat dan tentunya Negara. Bayangkan, bila uang hasil korupsi yang jumlahnya miliaran rupiah dari seorang koruptor itu digunakan untuk membangun fasilitas umun Negara, misalnya saja digunakan untuk membangun sebuah sekolah gratis. Akan ada kesempatan bagi ratusan mungkin ribuan tangan kecil bersemangat untuk menggapai mimpinya membantu membangun bangsa. Mereka mungkin hanya berasal dari keluarga kurang mampu. Namun siapa yang menjamin mereka tidak punya cukup kemampuan untuk membangun bangsa? Itu baru uang dari satu orang koruptor. Hitunglah berapa banyak koruptor di Indonesia. Banyak bukan? Jika semua uang hasil korupsi para koruptor dikumpulkan dan digunakan untuk membangun Negara, bisa dikatakan, Indonesia dapat maju seribu langkah dari Indonesia yang sekarang.

Para tersangka korupsi hanya memikirkan tentang kemakmuran diri sendiri. Mereka hidup makmur di tengah kemelaratan bangsa. Hal ini merupakan suatu ironi. Mereka, para pejabat Negara yang seharusnya bekerja untuk membangun Negara, malah mengahncurkan bangsa. Dengan mudah mereka melegalkankan banyak cara agar dapat menggunakan uang Negara untuk memakmurkan diri sendiri.
Sebenarnya yang menjadi pertanyaan di benak saya adalah seberapa pedulikah rakyat Indonesia dengan masalah korupsi yang ada di Indonesia ini? Kalaupun mereka peduli, apa tindakan nyata mereka untuk memberantas korupsi ini? Apakah mereka sendiri sudah sanggup untuk menghindari tindakan korupsi? Tentu pertama kali saya lontarkan pertanyaan ini ke diri saya terlebih dahulu sebelum menanyakannya ke orang lain.

Pernah suatu ketika saya pindah ke suatu daerah. Pada saat itu, saya yang masih bersekolah tentu juga harus pindah ke sekolah di daerah itu. Uang pungutan atau biasa disebut “uang pembangunan” merupakan hal yang biasa saya temui. Orang tua saya yang sudah acap kali mengurusi kepindahan sekolah anak-anaknya tidak banyak meributkan soal uang pembangunan ini. Namun mereka sedikit berkomentar karena mereka tahu kalau di daerah ini sekolah gratis sudah diterapkan. Oleh karena itu tidak ada lagi yang namanya uang pembangunan yang dibebankan pada siswa.

Beberapa hari setelah kepindahan saya ke sekolah tersebut, sang guru memanggil saya ke ruangannya. Yang sedikit lucu ialah beliau tidak datang langsung ke kelas saya untuk memanggil saya dia menggunakan pengeras suara yang bisa di dengar seluruh sekolah ketika memanggil saya. Sontak teman-teman pun kaget dan heran mengapa saya dipanggil. Bergegas saya menuju ke ruangan beliau dan menanyakan perihal mengapa saya dipanggil ke ruangannya. Beliaupun menjelaskan dengan baik kepada saya, kalau saya harus mengerti dengan hal yang akan dia sampaikan. Singkatnya saya harus mengatakan tidak dikenai pungutan apapun ketika masuk sekolah ini jika ada petugas dinas pendidikan yang datang langsung ke rumah saya menanyakan hal tersebut. Sayapun mengiyakan. Lucunya sampai saat ini tidak pernah ada petugas pendidikan yang datang menanyakan hal tersebut ke rumah saya.

Cerita di atas, saya sampaikan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada guru saya. Juga tidak bermaksud untuk menjelekkan nama sekolah. Cerita di atas merupakan contoh kecil praktik korupsi di bidang pendidikan yang pastinya banyak terjadi di pelosok Indonesia. Mungkin tidak banyak orang yang dirugikan secara materiil tetapi keberanian kita untuk menolak korupsi akan terus tergerus seiiring banyaknya praktik korupsi kecil-kecilan seperti ini. Dari cerita di atas dapat dilihat, baik saya, maupun guru saya, bahkan petugas dari dinas pendidikan tak kuasa untuk membantu menanggulangi korupsi. Guru saya yang tidak bisa menolak kebiasaan bahwa murid baru harus membayar uang pembangunan, saya yang tidak bisa berkata tidak untuk permintaan guru saya yang mengharuskan saya berkata tidak jujur, maupun petugas yang tidak melaksanakan kewajibannya untuk memeriksa data murid pindahan, semuanya merupakan wujud ketidakmampuan untuk mengikis korupsi.

Banyak orang yang membenci tindakan korupsi, tetapi di sisi lain mereka juga melakukannya. Banyak orang yang membenci korupsi, menginginkan Indonesia bebas dari korupsi, tapi belum berbuat apa-apa. Ketakutan pada “cara” yang sudah terbentuk selama ini, mungkin merupakan salah satu alasan mengapa kita belum sanggup mengalahkan korupsi. Dapat dikatakan “barang” yang disebut korupsi ini hadir karena ala bisa karena biasa. Hati-hati, lama kelamaan hal ini bisa jadi kebiasaan yang kembali lagi akan menghancurkan bangsa.

Bagaimana cara untuk mewujudkan Indonesia bebas korupsi? Jika meninjau dari contoh kecil di atas, untuk mewujudkan Indonesia bebas korupsi sebaiknya kita mulai dari diri sendiri dulu. Biasakan untuk berkata jujur, berbuat jujur, dan menghindarkan diri dari praktik korupsi sekecil apapun. Selain itu memperkuat agama merupakan salah satu cara yang baik untuk menghindarkan diri dari korupsi. Apabila diri kita sudah dibentengi dengan agama yang kuat, maka kita dapat membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk juga dapat membedakan mana perbuatan yang berdosa dan mana yang tidak.
Sebenarnya masih banyak cara lain untuk membantu memberantas korupsi, seperti mengadakan penyuluhan anti korupsi, kantin kejujuran yang sudah diterapkan di beberapa sekolah, menyampaikan tentang buruknya korupsi melalui dakwah, serta melalui tulisan. Tulisan adalah salah satu media yang saya coba untuk membantu mengikis korupsi. Hal-hal tersebut merupakan wujud nyata yang bersifat persuasif untuk membantu memberantas korupsi.

Namun untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar bebas korupsi melakukan beberapa hal di atas sebenarnya tidak cukup. Untuk benar-benar mewujudkan Indonesia bebas korupsi kita harus mengubah cara pandang orang tentang korupsi. Membuat mereka tahu kalau korupsi akan mendatangkan dampak yang buruk terutama bagi mereka. Kebanyakan manusia pada dasarnya tidak akan melakukan hal yang bisa mencelakai dirinya sendiri. Kebanyakan manusia tidak akan meminum racun bukan? Maka ubahlah korupsi layaknya racun bagi mereka.
Bagaimana dengan hukuman mati untuk para koruptor? Mungkin belakangan hal ini masih diperdebatkan karena ada beberapa orang yang berpendapat hukuman ini melanggar hak asasi manusia untuk hidup. Namun banyak juga yang setuju.

“China menjatuhkan hukuman mati memberlakukan hukuman mati bagi para koruptor dengan melakukan kebijakan pemutihan sebelumnya. Dengan kata lain, semua pejabat China yang pernah melakukan korupsi sebelum tahun 1998 dianggap bersih dari korupsi. Tetapi pejabat yang melakukan korupsi setelah masa pemutihan akan dikenakan hukuman mati. Cara tersebut efektif untuk China. Kini, China termasuk Negara yang bersih dari Korupsi.”("Hukuman Mati Bagi Pelaku Korupsi?," 2012).
Sedangkan menurut pertauran hukum di Indonesia, hukuman mati dapat ditinjau dari Pasal 2 Ayat 2 UU Tipikor.

“Adapun Pasal 2 Ayat 2 UU Tipikor tersebut berbunyi, “Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan”.Pada penjelasan ayat itu disebutkan, yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” dalam ketentuan tersebut adalah keadaan yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana korupsi, yaitu apabila tindak pidana itu dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi.”("Tepat Hukuman Mati Untuk Terpidana Korupsi," 2012).

Pada dasarnya, agama terutama agama yang saya anut, agama Islam juga membolehkan hukuman mati, selama hukuman tersebut setimpal dengan kejahatan yang dilakukan. Pendapat yang mengatakan bahwa pemberlakuan hukuman mati melanggar hak manusia untuk hidup mungkin lupa kalau tindak korupsi juga merupakan pelanggaran HAM. Berapa banyak orang di Indonesia yang terbelenggu kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan akibat dampak penyaluran dana yang tidak tepat? Dana yang seharusnya mereka dapat dari negara malah digunakan para koruptor untuk kesenangan pribadi.

Jika berandai-andai hukuman mati untuk para koruptor ini bisa dengan tegas dan tepat diterapkan di Indonesia, menurut saya besar kemungkinan untuk mewujudkan Indonesia bebas korupsi. Hukuman tersebut dapat menjadi racun yang tepat untuk dilekatkan pada tindak pidana korupsi. Kembali lagi pada sikap dasar manusia yang tidak akan mengambil tindakan yang mencelakai dirinya sendiri, tentu mereka tidak mau mengambil resiko mendapatkan hukuman mati dan memilih untuk tidak berkorupsi.
Ini adalah catatan kecil mahasiswa biasa mengenai korupsi dan pandangannya tentang bagaiamana cara terbaik untuk mewujudkan Indonesia bebas korupsi. Menulis adalah salah satu cara yang bisa saya lakukan saat ini. Namun saya hanya segelintir dari mereka yang berusaha jujur mengatakan saya belum bisa berbuat banyak untuk memberantas korupsi.


Referensi:

Hukuman Mati Bagi Pelaku Korupsi? [Electronic. (2012). Version], from http://www.anneahira.com/kasus-korupsi-indonesia.htm
Korupsi [Electronic. (2012). Version], from http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi
Tepat Hukuman Mati Untuk Terpidana Korupsi [Electronic. (2012). Version], from http://bumnwatch.com/tepat-hukuman-mati-untuk-terpidana-korupsi/

Looking for an example of Autobiography! Check this one! ;)


The First Year Notes
Morning in July 2010
It was the first year when I started to study in Universitas Padjadjaran, Jatinagor.  The alarm’s sound of my phone woke me up. I saw the screen of my phone. It was 05.00 o’clock. I sat in my bed, sighed, and realized that now I was alone in the room. My father and my mother had gone back to Palembang last night.
I didn’t know what to do this morning. I felt bored. I turned my laptop on then I turned my internet connection on. I wrote “facebook.com” in first tab, when I opened Mozilla Firefox. I saw my facebook homepage. I opened profiles of my friends. I wanted to know their recent news especially where they studied now. 
Actually, when I was in Senior High School there were a lot of my friends that were quite ambitious to pass SNMPTN and study in the department that they wanted. I wanted to know how much the effect of their ambitions in achieving their goals.  Not only my friends, actually I was also quiet ambitious when I was in the third grade of Senior High School. I just wanted to know their conditions now. Perhaps, I would read good news from them. 
My attention was distracted when I saw there was a chat box appeared in the corner of the screen. I saw a name, it was my friend. I knew her when I took a course in Ganesha Operation Palembang. She was one of ambitious girls that I knew. She started to text me.
‘Hi, how are you?’
‘I’m Fine, how about you? I read on your facebook profile, that you are accepted in Depkes. Congratulation! J
‘Yes Debby, thank you, I am very happy. By the way, I know that you are in UNPAD now. What major do you take?’
I didn’t know what she meant by asking such question. I just felt bad with that question. I didn’t know whether it was a question about what my major was or about another thing.
‘I study in Faculty of Letters in English Department’
‘Oh, hmm why do you take it? What can you be if you graduate from English Department?’
I felt bored with this question.
‘I can be anything, I can be a journalist, I can be a teacher, a translator, work in a bank, work in foreign minister, anything.’
“What does she mean by asking such question? What does she think when she asks that question? Does she feel that she is in the higher position than me now? Does she feel that she is better? Come on you are only accepted in D3 Depkes. You are not in a faculty of Medicine. Even, if you are accepted in Faculty of Medicine, you cannot say that people who are accepted in a faculty such Faculty of Letters doesn’t have a better future.” I was grumbling
I closed the chat box. I didn’t in a good mood anymore to chat.
I sighed. I, honestly, also doubt with my decision. I asked to myself.
“Why don’t you take your scholarship in Telkom? You know that you want to be an accountant.”
 “I know, but please stop to regret everything!” I told myself.
I had read many articles connected with professions for fresh graduate of English literature students before I chose to study in English Department. My parents had also given many advices to me. They said that studying in state university was better than studying in private university. They also insisted that for a woman, becoming a teacher was better than worked in a bank. I would have much free time to handle my family. Hearing those advices, finally I chose to take this English Literature program and to leave the accountancy program.

Rain in the Night of December 2010
I had passed six months to study in UNPAD, Jatinangor. It was not a long time, but I had already missed my home, my family. Now, the month was December. It meant that I would meet January soon. In January I would have a long holiday, it was about a month. Honestly, I couldn’t wait for it anymore.
However, it was still December. Today was the first Sunday on December. I would have free days for a week then I would have my final exam. Those free days actually made to give chances for students to study before they faced the final exam. However, most of students didn’t use it to study. They used it to do other activities, such as hanging out with friends and going home. At least, it happened on me. Even, I felt too lazy to glance at pile of books on the table. I preferred to watch some movies than to study.
The day was already dark at that day. Rain fell down. I felt cold. The weather in Jatinangor changed too fast. It could be very hot in the daytime but it could be cold in the night. The weather could be very cold in the rainy day. Like this night, Jatinangor was very cold.  I used to plan to watch Secret Garden at that night. It was a new Korean drama. I was curious about this movie because a lot of my friends said that it was a good Korean drama. Basically, it was a story about a poor girl that was loved by a rich man. The theme of the story was very usual, but many of my friends said that it was one of a touching Korean dramas. Thus, I thought that I should watch it.
However, I decided not to watch it at that night. This rainy night made me lazy to leave my bed, my blanket. I felt comfortable staying at my bed and did nothing. I closed my eyes but I didn’t want to sleep. It was still 08.00 0’clock. It was too early to take a sleep.
When I closed my eyes, I remembered an assignment from my lecturer. I thought it was very difficult because I didn’t know what I should observe from a three-page-text to make a seven-page-essay. Besides I didn’t know how to make a good essay, I also felt confuse to find the problem in that short story.
I chose to make an essay from Bernard Malamud’s short story, My Son the Murderer. Actually, I didn’t know what wrong with this short story was. I only knew that this story was about a young man, named Harry. He became very quiet and didn’t socialize anymore since he graduated from college the previous summer. His father, that worried him, was constantly watching on him. However Harry felt disturbed with this action. I only could understand those things but I couldn’t find the proper problem of this short story that I could put in my essay.
Certainly, I also consulted my essay with my lecturer. At the first consultation, I had brought him a five-page-essay. Unfortunately, it was totally wrong and I had to write from the beginning. Then, I applied opinions given by my lecturer in my essay. However in the second consultation he said that he couldn’t give a good score for this kind of essay. I was quite shocked with what he said and decided that it was my last consultation for this essay.
Actually, it was too fast to give up but I realized with my ability to criticize a text now, I couldn’t understand what my lecturer really wanted for this essay. Honestly, for my first semester, this subject and also the lecturer had already informed me that being a student in English Literature program was not as easy as people thought. We studied not only English but other lessons that didn’t have any formula like mathematics. It sometimes could be more difficult from studying mathematics.
Suddenly, I felt that the light was off. Although I closed my eyes, I still could feel that my room turned dark. I opened my eyes. My room was very dark. I heard that the rain outside my room was getting heavier. The situation made me felt sleepy. I closed my eyes again and now I wanted to sleep. I hoped could pass this December and soon met January.

January 2011, This Was the Holiday
This morning was such one of my great mornings. I woke up in my bed room and saw my little sister beside me. I breathe the air, felt my soft blanket. This was my room, my home. I always liked morning in my home especially the smell of kitchen in the morning. It was because I always could find food in the morning in my home.
I just arrived in Palembang last night. It was my first holiday when I studied in UNPAD, Jatinangor. Living in Jatinangor, actually, was not too bad but going home was really a blast for me. I liked waking up in the morning in my home, in my bedroom. I also missed my sister’s babble in the morning.
My little sister always got up earlier than anybody else. She was very on time. She had got ready to go to school at 06.15 o’clock. Although we all knew that her school as not far as she said, she still wanted to go to school at 06.15 o’clock. I always thought that coming earlier was such an honor for her. She wanted to come earlier than anybody else. I never knew why she liked to go to school early. I, myself, was often late to go to school. I sometimes felt disturbed because she was too fussy about this.
Actually I also had two brothers and one of them was in the same school with my little sister. He was the opposite of my sister. He was often almost late to go to school. They went to school with my father. Sometimes, my father felt stress with their contrast.
In the first year when they went to school together, my brother was always scolded by my sister because he was always late. Fortunately, now he was not. My father and my mother had allowed him to go to school by motorcycle. It was because the school was near from our house and my brother promised not to come home late if he rode motorcycle to go to school.
Home was always a bit quite after their going. It was only my mother and I that stayed in the home. As usual, we did the house works in the morning. We didn’t have any maid because my mother said that it was too hard to find a trusted one. My mother washed clothes and I swept the floor. We helped each other. My brothers and my sister, actually, also helped my mother to do house works. Although, they were still young, they understood with this condition
Finishing all of those works we could take a rest for a while before cooked for lunch. We watched television and talked to each other while we were taking a rest.
Those activities became my routines for a month. Actually, I didn’t often go out. I only went if my friends invited me to go. I liked to go to karaoke place with them. It was my favorite place to spend my free times. Although, I didn’t have a nice voice, I still liked karaoke. It could refresh my mind. I thought I could pull out my negative energy when I sang. I went out not only with my friends but also with my family. On weekend, we went out together. Actually, we didn’t go to a far place. We only went to shop or to eat. However, it was still fun and I liked it very much.
These activities were called holiday for me. Spending a lot of my time with family and going to karaoke place were simple activities but it was very fun. Actually, I also wanted to go tourism places, such as Bangka and Belitung but we hadn’t had a chance. Actually I didn’t feel disappointed because of that. Home was always a nice place for going holiday.

February 2011: Rika and Aci
Jatinangor seemed to be more quite than the last time I was there before the holiday.  Maybe, there were still a few college students that came back. There were three more days before we had to start activities in college. Truly, I felt rather sad leaving Palembang. Thus, I decided to go to my friend’s boarding house.
 “Assalammualaikum, Rika!” I knocked the door. “Rika!” I shouted again.
“Yes Bon, wait a minute,” she answered.
“Hey come on in,” she smiled as usual, a bright smile.
She was a chubby girl with a very bright smile. She had curly hair. She always wore a ponytail hairstyle even in her room. Although she always wore that style, she never looked boring because she was very funny. You would be filled up with happiness when you were near her. You would laugh more often when you talked with her. She had a very good sense of humor.
Rika was one of my best friends. Same with me, she also came from Palembang. However not like me, she spoke Palembang language fluently because she grew up in Palembang. I liked to ask her to teach me some Palembang words. However, she liked to laugh when I spoke Palembang language.
“It’s not wrong, if I doubt you when you first said that you came from Palembang,” she laughed.
“Yeah, you know I only spent three years for my childhood time and one year for going school in Palembang, I never really grew up there.” I tried to give a reasonable reason.
“You are right, but remember, it’s not free, you need to pay me for teaching you Palembang language,” she laughed again.
“Oh, please!” I laughed.
Actually, I loved to visit Rika’s boarding house in free day. We did nothing important. We only spent the day with talking about many trivia things. We could spend too much time when we went lunch. One time, we went lunch at 02.00 o’clock and went back at 04.00 o’clock. However, I never felt bored.
We also liked to watch infotainment program then we gossiped about the celebrities. Infotainment was one of our favorite programs to be watched when we gathered. We loved to watch not only infotainment but also situation comedy (sitcom). Sitcom was very refreshing for us. Our most favorite sitcom was SKETSA. It was often very funny, although sometimes it was not. We were going to laugh the stupid things that actors did.
Actually, I was not the only one who often visited Rika’s boarding house. I had one more friend. She was Aci. Aci came from the same faculty with us. Although we came from the same faculty, we stayed in different classes. We first met in the first day of OSPEK. Now, we became friends.
“Aci also wants to come this afternoon, doesn’t she?” I asked.
“Yes. It’s been a long time since we gathered and gossiped together.”
“Yes, this long holiday has separated us.” I laughed.
“Rika!” someone shouted outside the door.
“Come on in,” Rika and I answered.
“Debon, long time no see. How’s your holiday? Is it good’’ Aci asked.
“Yes of course, I really enjoyed my time with my family. How about you? Where did you go on Holiday? Did you go to Yogyakarta?”
“Yes, I met my grandma there and I was very happy when I stayed there.”
“You have any souvenir for us, don’t you?” Rika asked.
“Yes, off course, I bring it for you guys.”
“Wow, thank you,” we took key chains from Aci’s hand.
I liked the shape of the key chains. It was like a miniature of shadow puppet.
 “By the way, what do you want to eat for this lunch Bon?” Rika asked.
“Anything.” I answered. “How about you, Aci?”
“Ngeumong can be a good choice,” she smiled.
That day, as usual, we spent the day with going lunch, gossiping, and watching television. Those small things were really great for us. They were very refreshing. I really loved meeting my great friends.

Old Message in May 2011
My phone was ringing, I answered the phone.
‘Yes Mom’
‘What are you really doing now? I have phoned you for two times, but there were no answers. Are you busy now?’
‘Oh, I am sorry Mom, I don’t know, because the phone was set in the silent mode. By the way Mom, I have to do something now. Is it okay if I phone you at 03.00 o’clock?’
‘Oh okay. Hmm…could you search the list of asmaul husna and send it via facebook message to your sister?’
‘Oh I will do it after I finish this one.’
‘Thank you Yuk, and don’t forget to eat your food. Assalammualaikum.”
‘Of course Mom, Waalaikummusalam.’ I hung up the phone.
This was the last day of May. I would face the final examination in June. I would end my second semester soon. Now I had some assignments to do before I faced the examination. Truly, those assignments made me rather stressful. I thought doing mathematics assignment was more enjoyable than doing this assignment.
“Should I try to take another SNMPTN test?” I mumbled
Actually, I had consulted about this idea to my parents but they suggested me to rethink about this idea. They said that my GPA in the first semester was already good enough. Besides that I had to study if I really wanted to take a SNMPTN test. However, I didn’t have enough time to really study. Those reasons became one of my considerations to stay in this department.
I saw the clock. It had been three hours since I started to do this essay. I felt tired.
“I should close this Google translate tab and this Microsoft word office.” I talked to myself.
I checked my facebook accounts. I remembered that my sister asked me to send asmaul husna list via facebook message. After I did it, I felt curious to reread the old messages. I was stupefied when I saw a message. A year had passed since I first read this message but I never replied it.
It was from him. He wasn’t my unforgettable first love but he was a man that could make me felt angry and afraid of losing him in the same time. I smiled when I reread his message. Actually he sent two messages. One of them was the lyric of Afgan’s song, Bukan Cinta Biasa. It’s actually sweet but rather funny.
“He couldn’t sing so he only sent me the lyric.” I mumbled.
Actually, we even hadn’t started any love story but we had spent some sweet moments together. He first said that he loved me when we had just graduated from Senior High School but I never answered it. I didn’t want to refuse him but I couldn’t be in a relationship with him. The reason was simple. I just didn’t want to get in a long distance relationship.
He was never angry to me, even he supported my decision. “Be careful there, don’t forget to pray, and don’t forget to achieve your dreams. I will always pray for youJ”. I read his words in the end of the message. He was right. I had to achieve my dreams and finish my study. I realized that I used to decide to study here and my parents were really happy when they knew about my decision.
“I would disappoint my family and my parents if I didn’t finish my study in UNPAD,” tears fell down my cheeks.
I closed my facebook account and stopped crying. I saw the clock. It was two o’clock. I remembered that I should eat my lunch.
“I hope that I can pass the second semester better and Jatinangor would be always nice to me for the next three years.”  I said it while eating.