Sudahkah anda shalat?

Sudahkah Anda Sholat??? ^^ Kalau Belum Sholat Yuk. ^^
By Debby Sheilla Saputri

Semangat Debby

SELAMAT DATANG ingat selalu Tiga pepatah arab ajaib -> man jadda wa jadda; man shabara zhafira; mansara ala darbi washala

Senin, 17 Maret 2014

Menulis di Koran Sindo

 Ini adalah salah satu tulisan saya di Koran Sindo. Kebetulan waktu itu menulisnya ketika liburan di Palembang, jadi tidak sempat membeli koran cetaknya :D.



Surat untuk Mama dan Papa

Untuk Mama dan Papa yang selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya

Mama, Papa, dalam setiap doaku, aku selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian. Berdoa semoga senantiasa kalian diberi kesehatan, keberkahan, dan kemurahan rezeki. Ma, Pa, terima kasih sudah menjadi orang tua yang hebat. Terima kasih untuk Allah yang sudah memilihkan orang tua terbaik di dunia.

Ma, Pa anak-anakmu ini insyaAllah akan melewati hari dengan bahagia. Terima kasih Mama dan Papa, orang tua terhebat :) .

Dari anakmu yang segera akan jadi sarjana :)


Selasa, 17 September 2013

Nikmatilah Hidupmu ^^

Kita hidup di dunia  ini hanya sementara oleh karena itu nikmatilah hidup. Begitulah kata orang tuaku yang sering aku dengar atau kata orang tua lain yang memang lebih banyak pengalaman hidup dariku :). Tolong bagian ini diartikan positif ya, maksudku di sini adalah toh hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita boleh berusaha, Allahlah yang menentukannya. Kalo kata temenku yang orang jawa jangan terlalu ngoyo. Banyak sekali yang bisa kita nikmati di dunia ini. Yang terpenting nikmatilah sesuatu yang bisa jadi bekalmu di dunia yang lebih kekal nanti. Ah... tentu saja aku masih jauh sekali untuk itu. Tapi aku sedang belajar, belajar bagaimana cara menyenangi hidupku dunia juga belajar bagaimana agar hidupku senang di tempat yang lebih kekal nanti :). *sekali-kali bijak :p*

Sedikit berbicara tentang orang tuaku. Aku beruntung karena mereka tidak pernah memaksakan banyak hal di hidupku ini. Begitupula dengan soal pelajaran, prestasiku, juga pekerjaan yang nantinya akan aku jalani. Mereka tidak pernah memaksaku untuk belajar dan harus dapat nilai sekian, jika nilaiku sekian maka bla bla bla. Untungnya mereka tidak pernah. Tapi lagi-lagi aku beruntung karena papa selalu "memaksaku" untuk mengingat Allah dan mengembalikan semua hal pada Allah.

Kembali lagi pada soal menikmati hidup. Adikku bilang, "Santai aja Deb, orang itu ga sama, kita inikan beda-beda, santai tapi jalani terus." Sebenarnya aku sadar bahwa setiap orang punya "pola" sendiri-sendiri dalam mengerjakan sesuatu, dalam kehidupannya. Aku tentu tidak bisa seperti si A atau si B. Yang perlu aku lakukan ya terus berusaha. Soal bagaimana usahaku, seberapa keras usahaku, ataukah aku terlalu santai mungkin lambat, aku tidak perlu membandingkannya dengan orang lain. Satu yang perlu diingat "banyak jalan menuju Roma". Pepatah ini benar menurutku, karena jalan yang orang tempuh untuk mencapai keinginannya pasti berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tapi yang paling penting adalah hasil akhirnya :).

Curhatan di atas sebenarnya hanya sebagian kecil dari pikiran yang terus berputar-putar di otakku. Sebenarnya aku ingin menulis tentang gelombang negatif dan gelombang positif yang ditransfer seseorang ke lingkungan sekitarnya tanpa dia sadari. Kalau kalian pernah dengar "when you spread good words you spread good energy",  itu benar adanya. Makanya di dunia ini ada profesi motivator :D. Lain kali aku akan menulis tentang hal itu, tapi mungkin harus membaca rujukan lebih banyak lagi hihi :D.

O iya tetap nikmatilah hidup ya, karena hidup ini indah tobeliiiii :D. O iya ingat juga memang nih misalnya kamu lagi kena musibah dan bertanya si A tuh hidupnya seneng mulu si B ga pernah susah,KENAPA? KENAPA?. Hey jangan sotoy! Mereka ga cerita aja ke kamu tentang kesusahan mereka. Dan satu hal yang perlu diingat juga, banyak sekali orang yang dapat cobaan lebih dari kamu. Terus bersyukur dan nikmatilah hidup :D.


Senin, 26 Agustus 2013

Hobi Baru :D


Harum toko ini benar-benar membuatku terperangah, aku... rasanya ingin membeli semuanya!
Ruangan ini begitu sesak dengan ibu-ibu muda, ayuk-ayuk, gadis kecil, bibi tukang kue, mama-mama dan anak perempuannya, juga  nenek-nenek yang terlihat masih segar bugar. Pertama kali memasuki ruangan ini mataku berbinar-binar. Banyak sekali bahan kue yang aku tidak tahu jenisnya tapi begitu menarik mata dan hidungku. Harum mentega, vanili, warna-warni sprinkle, ah... aku sungguh menyukainya! Suatu hari aku juga ingin punya yang seperti ini....

Seharusnya tulisan ini aku poskan beberapa minggu yang lalu, berhubung (lagi-lagi) sok sibuk, haha, aku baru sempat membuatnya sekarang. Bermula ketika aku liburan di Palembang puasa ini. Aku dan Caca yang sudah sejak lama ingin sekali belajar membuat kue, sangat girang saat itu. Mama akhirnya membulatkan tekadnya untuk membeli oven :D, aku merasa menemukan sesuatu yang baru, tentunya hal yang menyenangkan!

Pertama kali oven itu terpanjang di dapur mungil kami, aku langsung browsing resep kue yang mudah dibuat dan bahannya kira-kira bisa ku temukan di JM, supermarket, dekat rumah. Jadilah waktu itu aku memutuskan untuk membuat bolu keju dengan bahan dan cetakan kue seadanya :D.


Ini kue bolu keju yang kata si Caca lebih mirip donat raksasa, haha.
Rasanya lumayan enak loh, hehe. Bolunya pun mengembang sempurna, yeay! Aku senang sekali, karena ini pertama kalinya aku membuat kue sendiri. Biasanya sih cuma liat cicikku bikin kue, paling banter ya bantuin nuang-nuang tepung :D.

Karena, ehem, bolu kejunya lumayan sukses, akhirnya mama berani juga untuk membuat kue kering untuk lebaran. Berbekal resep maknyus dari Ii (panggilan tante untuk orang cina), tetangga kami yang baik hati, akhirnya kami memulainya dengan membuat kue nastar. Kata Ii sih mudah, tapi pas prakteknya aku dan mama cukup kewalahan awal-awalnya, untungnya nih ada bala bantuan dari Caca yang emang dasarnya cekatan kalau kerja, haha.

Dan, tadaaa...
Kue Nastar Mama Bisrah dan Dua Anak Gadisnya yang Caem xD
Ga tanggung-tanggung Mama langsung buat satu kilo tepung, kalau ditambah-tambah sama bahan lain, kira-kira ini hampir dua kilo jadinya :"). Nah, lagi-lagi ini rasanya enaak *hihi memuji diri*. Tapi resep si Ii memang top, soalnya kue nastar ini jadinya mumpur banget, ga keras, meleleh di lidah :D.

Setelah membuat kue ini, kami juga membuat beberapa kue lain seperti putri salju, kue kacang, kacang pedas manis, coco crunch celup coklat, dan kue basah. Khusus untuk kue basah memang agak gagal sih, haha, tapi masih bisa dimakan kok :').

Coco Crunch Celup Coklat Ala-Ala, Ala Ayuk Debby Ding!
Bisa dilihat itu susunannya masih berantakan, juga cupnya maksain pakai cup kue bolu, haha. Tapi rasanya *lagi-lagi* maknyuss, haha. Lebaran nanti kami masih berencana untuk membuat kue kering sendiri. Semoga tampilannya bisa lebih baik lagi ya ;). Ah iya, liburan Januari nanti aku juga ingin belajar masak lagi, masak yang lain, pempek, nasi uduk, ah sepertinya aku mulai menyukai hal ini :D ! Semoga Allah masih memberi rezeki, nikmat, dan juga umur panjang ya untuk umat-Nya ini :). Amiinn.

Kamis, 01 Agustus 2013

Rasanya Seperti Nano-Nano!

Bukankah rasa menyukai itu menakjubkan? Menyukai bukan hanya melulu tentang cinta loh. Rasanya bagaimana menyukai itu? Tidak harus selalu seperti sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuh ketika menatapnya, tidak harus berasa panas dingin karena bertemu dengannya, tidak harus berasa deg-degan ketika diam-diam melirik ke arahnya. Rasanya menyukai itu macam-macam bukan? Seperti permen nano-nano, seperti rasa rujak! Rasanya campur-campur.

Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang sesuatu, seseorang tepatnya. Ah, sebenarnya ini bukan gayaku. Menceritakan tentang seseorang yang kusuka di blog seperti ini. Jangankan di blog yang dibaca orang umum, curhat ke teman saja aku malas, haha.

Tapi entah mengapa aku ingin membuat sedikit tulisan tentang dia. Mungkin tulisan ini akan membuat ku tertawa cekikikan sepuluh tahun mendatang ketika membacanya lagi, haha. Tapi sudahlah, toh tidak ada salahnya menulis tentang seseorang terlebih tentang kebaikannya :).

Dia ini, hmm...sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang dia, bahkan kami tidak pernah dekat bahkan jadi teman pun tidak pernah. Yang aku tahu sejak dulu, dia itu lumayan, hehe lumayan lucu, lumayan cakep. Kelihatannya dia juga baik. Tapi sebelumnya aku tidak pernah menyukainya. Kelihatannya dia malah tidak pernah mentapku kalau kami bertemu. Kami juga belum pernah saling bicara. Dia terlalu pendiam tadinya kupikir, tapi ternyata dia sama saja kok seperti yang lain, suka bercanda, banyak bicara juga. Ya setidaknya itu yang kulihat ketika dia sedang bersama teman-temannya yang sebagiannya juga temanku.

Apa mungkin dia tidak menyukaiku? Ah sudahlah pikirku waktu itu, toh aku ini hanya anak baru, dia tidak menindasku saja sudah bagus. Sedikit melenceng dari topik aku akan sedikit bercerita tentang kehidupan menjadi anak baru. Sebenarnya tidak bisa dibilang mudah tapi jangan juga dianggap susah. Dari beberapa pengalamanku jadi anak baru tentu ada senangnya tapi ada juga sedihnya. Pernah juga aku dipojokkan oleh suatu genk. Kau tahu, apa yang ingin sekali aku teriakkan ke telinga mereka pada saat itu? "WOY JANGAN KEBANYAKAN NONTON SINETRON PLIS!" Aku tidak habis pikir, mungkin menurut mereka menindas anak baru adalah hal yang keren seperti yang di tv itu. What the...! Haha sudahlah, itu hanya masa lalu.

Balik lagi ke dia, hmm sebut saja Mr. U, hehe. Liburan ini aku bertemu dengannya. Waktu itu kebetulan kami menghadiri acara yang sama, ia datang duluan. Ketika aku datang, aku langsung lirik kanan kiri, bingung mau duduk di mana. Sektika si Mr. U, langsung berdiri dari tempat duduknya dan menawariku untuk duduk di sana.Waktu itu dia bilang, "duduk di sini saja". Namun, aku masih kebingungan dan belum juga menempati tempat duduk itu. Dia melirik sekilas ke arah kursi itu dan tanpa di suruh dia langsung menyingkirkan benda yang ada di atasnya. Sebenarnya alasanku tidak duduk sih karena tidak enak padanya. Jadi buru-buru sebelum dia selesai menyingkirkan benda yang ada di atas kursi, aku bilang, "tidak usah saja, aku duduk di bawah saja".

Aku kemudian berpikir, dia ini baik juga. Kalau hanya menyingkir dari tempat duduk agar aku bisa duduk itu namanya gentleman kan ya.Tapi dia juga respect dengan tingkah bingungku. Padahal kami mungkin berteman saja tidak, hanya setingkat kenalanlah hubungan kami.

Aku menyukainya, cara dia respect terhadap orang lain maksudku. Kau tahu, bagiku, hal kecil seperti itu, manis sekali. Mungkin dia tidak hanya melakukannya untukku saja tapi pada semua orang. Mr. U, kau tahu, aku mengagumimu dan menyukai sikapmu :). Seharusnya kita berteman lebih awal ya. Kalau sekarang kita mulai berteman, mungkin tidak bisa, karena bisa menimbulkan kesalahpahaman. Mr. U, untuk waktu dekat ini aku mungkin akan menjadi fansmu, hehe. Ini adalah rasa suka yang aku maksud. Aku  menyukainya karena aku merasa dihargai.

Mr. U, kalau nanti ada kesempatan kita untuk berteman, mungkin kita bisa menjadi teman baik :).



Suku Pasemahku Tercinta


Indonesia adalah Negara yang kaya dengan budaya. Daerah Indonesia yang luas, terdiri dari sabang sampai merauke, tentu memiliki beragam suku. Hal inilah yang membuat Indonesia memiliki kebudayaan yang beraneka ragam. Dalam satu provinsi saja, Indonesia bisa memiliki lebih dari satu suku. Misalnya di Kalimantan Tengah, kita bisa menemukan Suku Ot Danum, Suku Dusun, Suku Maanyan, dan Suku Lawangan, sedangkan di Sumatera Selatan kita dapat menemukan Suku, Palembang, Suku Sekayu, Suku Semendo, Suku Daya, Suku Dumai, Suku Kayu Agung, Suku Komering,  Suku Ogan, Suku Pasemah, dan beberapa suku lain.
Bayangkan betapa kayanya kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Pada penejlasan di atas, saya hanya menyebutkan dua provinsi di Indonesia. Namun, sudah berapa suku yang saya sebutkan ada di kedua provinsi tersebut? Sudah ada 13 suku yang saya sebutkan. Hal ini membuktikan bahwa suku di Indonesia sangat beragam.
Namun, umumnya masyarakat Indonesia hanya mengenal beberapa suku besar saja, seperti Suku Minang, Batak, Jawa, dan Sunda. Sebagian besar dari masyarakat Indonesia kurang mengenal bahkan tidak pernah mendengar nama-nama suku yang saya sebutkan di atas.
Kenyataan ini sungguh merupakan hal yang sangat disayangkan. Sudah saatnya bagi kita warga Indonesia untuk menyadari pentingnya potensi keberagaman suku dan budaya di Indonesia. Dari sebuah suku saja ada beragam kesenian, makanan tradisional, sistem pengetahuan, kerajinan, dan lain-lain. Jika satu provinsi saja memilik dua suku dan satu suku punya dua makanan khas daerahnya, maka ada berapa makanan tradisional yang ada di Indonesia? Beragam bukan!
Oleh karena itu, Indonesia adalah Negara yang kaya akan budaya. Kekayaan budaya ini hendaknya dijaga dan dilestarikan oleh anak bangsa. Kita sebagai penerus bangsa tidak boleh malu akan budaya sendiri. Banggalah jadi bangsa yang kaya akan budaya.
Keberagaman suku dan kebudayaannya di Indonesia ini membuat penulis ingin membahas kebudayaan salah satu suku di Indonesia yaitu Suku Pasemah. Penulisan akan memfokuskan pembahasan pada kuliner asli Suku Pasemah, yaitu lemang. Lemang yang lebih dikenal sebagai makanan Malaysia ini ternyata adalah makanan tradisional Suku Pasemah. Oleh karena itu penulis ingin  agar masyarakat Indonesia lebih mengenal tentang kebudayaan Suku Pasemah, yang akan penulis sampaikan melalui makanan tardisional.

Lemang, Kuliner Jeme Kite, Suku Pasemah

Adakah dari kalian yang pernah mendengar kata PASEMAH? Mungkin di telinga kita nama ini tidak setenar Batak, Jawa, Sunda, Dayak, Banten, Minang, dan Kubu. Ya, Pasemah adalah nama salah satu suku di Indonesia. Pasemah memang tidak sepopuler suku-suku lain. Bahkan mungkin hanya sedikit dari orang Indonesia yang pernah mendengar tentang Suku Pasemah.
Suku Pasemah adalah suku yang tinggal di perbatasan Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah pemukiman suku Pasemah meliputi daerah sekitar kota Pagar Alam, kecamatan Jarai, Kecamatan Tanjung Sakti dan daerah sekitar Kota Gunung Agung, Kabupaten Lahat. Wilayah pemukiman suku Pasemah ini berada dekat sekitar kaki Gunung Dempo. Sebenarnya nama suku ini adalah Suku Besemah namun orang lebih akrab denga sebutan Pasemah.
Sebagai salah satu keturunan Suku Pasemah saya sebenarnya juga kurang mengenal tentang suku ini. Bermula dari keheranan saya ketika melihat salah satu saudara sepupu saya memakai akun facebook dengan nama belakang Besemah. Saya kira itu sejenis nama gaul yang biasa digunakan anak-anak jaman sekarang untuk menamai akun facebook-nya. Namun saya bertambah heran ketika saya melihat beberapa pengguna facebook lain juga menggunakan Besemah sebagai nama belakang akun facebook-nya. Awalnya saya kira, Besemah adalah salah satu nama perkumpulan atau organisasi pemuda di Pagar Alam, karena saya juga menemukan grup di facebook dengan nama Jeme Besemah.
Penasaran, akhirnya saya menilik lebih jauh melalui internet. Dari pencarian dan browsing di beberapa situs, saya menemukan bahwa Besemah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pasemah ini adalah nama suku di kota Pagar Alam dan daerah sekitarnya.
Kedua orang tua saya, mama berasal dari Pagar Alam, dan papa berasal dari Lahat, memang tidak pernah menceritakan ataupun menyinggung tentang Pasemah sebelumnya. Mama adalah orang asli Pagar Alam yang mengahbiskan masa kecilnya di Desa Tanjung Sakti, sebuah desa kecil di Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sedangkan papa memang berasal dari Lahat, namun papa lahir dan tumbuh di Palembang, karena kedua orang tuanya sudah hijrah ke Palembang sejak menikah dan meniti karir di sana.

Saya sendiri, adalah orang Palembang yang besar di perantauan. Saya memang lahir di Palembang, namun saat saya berusia tiga tahun, mama dan papa memboyong saya dan adik ke Padang untuk merantau. Kemudian, kami juga merantau menyebrangi selat sunda, ke Pulau Jawa sana. Tahun-tahun saya banyak saya habiskan di kota orang. Hal ini merupakan pengalaman yang menyenangkan namun sempat membuat saya tidak mengenal kota kelahiran sendiri juga.
Mama dan papa tidak pernah menceritakan tentang tempat kelahirannya itu. Mendongeng tentang masa kecil mereka, bahkan menceritakan tentang kakek dan nenekpun tak pernah. Saya hanya mengenal sosok kakek dan nenek dari garis keturunan mama ketika sesekali berkunjung saat lebaran ke Tanjung Sakti dan hanya mengenal sosok kakek dan nenek dari garis keturunan papa dari foto kakek dan nenek di rumah lama tempat papa dan kakak beradiknya tumbuh besar.
Setelah mengetahui tentang Suku Pasemah ini, saya iseng bertanya langsung pada mama yang memang menghabiskan masa kecilnya di sana. Mama ternyata, juga tidak tahu banyak tentang suku ini. Mama tidak tahu asal mereka dari mana. Yang mama tahu bahwa pekerjaan mereka sebagian besar adalah bertani. Mama bilang orang Pasemah banyak yang mirip cina karena memiliki kulit putih dan garis muka mirip rumpun cina namun sebagian besar dari mereka sudah punya lipatan kelopak mata, jadi tidak terlalu sipit seperti orang cina asli. Beberapa di antara mereka juga ada yang tampan dengan hidung mancung dan cantik semampai karena mungkin pernah memiliki keturunan dari Belanda yang pernah singgah dan sempat menetap di daerah Pagar Alam dan sekitarnya.
Namun untuk bahasa, orang Pasemah menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Malaysia (Melayu), namun tidak menghilangkan unsur bahasa Palembang. Berbeda dengan bahasa Palembang yang menggunakan akhiran o pada pengucapan beberapa kata, orang Pasemah menggunakan akhiran e, lebih seperti bahasa Melayu. Contohnya, kite ni jeme Pasemah (kami adalah orang Pasemah) dan Ninek nak becantik kudai (Nenek mau berdandan dulu). Orang Palembang biasanya menyebut logat seperti ini dengan bahasa dusun yang artinya bahasa daerah.
Tentang asal usul suku Pasemah sendiri sampai sekarang masih abu-abu. Dari beberapa situs di internet, saya mendapati bahwa ada legenda yang menceritakan bahwa nenek moyang Suku Pasemah adalah Atong Bungsu.
Menurut masyarakat suku Pasemah, asal usul mereka diawali dengan kedatangan Atong Bungsu, sebagai nenek moyang orang Pasemah Lampik Empat, yang datang dari Hindia Muka, yang memasuki wilayah Sumatra Selatan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling. Pada saat kedatangan si Atong Bungsu, ternyata sudah ada dua suku yang terlebih dahulu menempati daerah itu, yaitu suku Penjalang dan suku Semidang. Mereka bersepakat untuk sepanjang hidup sampai anak keturunan tidak akan mengganggu dalam segala hal. Atong Bungsu menikah dengan putri Ratu Benuakeling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melalui keturunannya Puyang Diwate, Puyang Mandulike, Puyang Sake Semenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seghatus dan Puyang Sake Seketi, menjadi suatu kelompok masyarakat Jagat Besemah atau yang disebut sekarang sebagai suku Besemah ("Lemang," 2013).
Menurut beberapa situs di internet, Atong Bungsu berasaal dari Majapahit namun hal ini tidak bisa dibenarkan jika ditinjau dari segi sejarah. Hal itu dikarenakan orang Pasemah atau Besemah, telah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya atau bahkan sebelum masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad 6. Sedangkan Majapahit baru ada sejak abad 12.
Meski tidak tahu banyak tentang asal usul orang Pasemah. Mama memperkenalkanku dengan beberapa makanan tradisional orang Pasemah. Pernah suatu ketika di depan rumah nenek, aku melihat orang beramai-ramai mengaduk wajan super besar berisi cairan kental hitam di bawah terik sinar matahari. Mama bilang mereka sedang membuat lempok. Pada waktu itu, makcik-ku akan menikah dan kami akan mengadakan hajatan. Seperti kebanyakan orang desa lainnya, Suku Pasemah saling bahu-membahu memasak ketika suatu rumah akan mengadakan hajatan. Lempok yang dimasak mereka tadi adalah dodol duren. Dodol duren ini harganya tergolong mahal jika dijual di pasaran karena bahan baku pembuatannya sebagian besar terdiri dari duren.
Makanan tradisional Suku Pasemah lain yang terbuat dari durian adalah tempoyak. Tempoyak adalah durian yang difermentasikan. Rasanya asam, namun enak menggugah selera makan bagi penikmat durian. Tempoyak biasa dicampur dengan sambal, sehinggal orang Sumatera Selatan mengenal sambal tempoyak. Sambal tempoyak ini selain bisa disantap langsung sebagai teman makan nasi juga bisa diolah lagi, misalnya untuk bumbu pepes ikan.
Selain lempok dan tempoyak, aku juga mengenal lemang. Lemang adalah kudapan jeme Pasemah. Lemang terbuat dari beras ketan. Dulu nenekku sering membuat ini di bulan puasa. Rasanya gurih dan enak. Aroma gosong bekas pembakaran menambah lezat kudapan lemang ini.
Lemang dibuat dengan cara memasukkan beras ketan ke dalam bambu muda. Beras ketan tadi dicampur dengan santan, air secukupnya, dan juga garam lalu dibakar dengan menggunakan kayu bakar. Proses pembakarannya sekitar setengah jam dengan menggunakan api kecil.
Masyarakat Pasemah membuat kudapan lemang ini karena, daerah Pasemah yang masih dikelilingi banyak hutan, banyak ditumbuhi bambu liar. Lemang ini adalah ketan bakar khas Pasemah. Lemang sangat cocok menjadi kudapan orang Pasemah, karena daerah Pasemah yang terletak di Pegunungan, memang berudara dingin. Di sini, lemang biasanya disantap bersama tapai atau bisa juga dengan pisang goreng hangat dan secangkir kopi panas. Kopi panas dan pisang goreng hangat yang disantap bersama lemang, memang sangatlah cocok untuk menghangatkan perut di saat cuaca dingin.



Lemang ini bisa dimakan dengan kudapan lain. Orang-orang di kampung saya terkadang menyantapnya bersama durian, sewaktu musim panen durian tiba. Namun, sebenarnya lemang sudah terasa nikmat walaupun tidak ditemani kudapan lain. Rasanya yang gurih cocok sekali dengan lidah orang melayu dan sumatera.

Di Palembang, lemang biasa disantap bersama dengan srikayo ataupun sambal ingkong. Kedua makanan ini sangat berbeda rasanya. Srikayo adalah kudapan manis, sedangkan sambel ingkong rasanya asin. Namun keduanya cocok sebagai teman ketika menyantap lemang.  Srikayo yang rasanya sangat manis, karena terbuat dari telur bebek dan gula, akan menghasilkan kombinasi yang pas di lidah jika dimakan bersama lemang. Sedangkan sambal ingkong, yang wujudnya seperti abon ikan, dapat dimakan seperti lauk jika dimakan dengan lemang.
Makanan lemang ini juga ada di Padang. Orang Padang menyebutya dengan lamang. Mereka biasa memakannya dengan rendang. Namun lemang orang Pasemah sedikit berbeda dengan lamang orang minang. Selain cara memakannya yang beda, cara pembuatnnya pun juga sedikit berbeda. Lamang padang, menggunakan bambu yang diameternya sedikit lebih besar dari pada lemang Pasemah. Orang Pasemah menggunakann diameter  bambu seukuran tangan anak kecil. Perbedaan lain ialah, lamang Padang yang menggunakan daun pisang sebagai lapisan dalam bambu, sebelum memasukkan ketan ke dalamnya. Sedangkan orang Pasemah biasanya memasak lemang tanpa menggunakan lapisan apa-apa di dalam bambu.
Di wikipedia, saya menemukan bahwa lemang adalah makanan khas Malaysia. “Lemang is a traditional Malaysian food made of glutinous rice, coconut milk and salt, and cooked in a hollowed bamboo stick lined with banana leaves in order to prevent the rice from sticking to the bamboo” ("Lemang," 2013).  Kemungkinan, dunia hanya mengetahui bahwa lemang adalah makanan khas dari Malaysia. Padahal, salah satu suku di Indonesia, yaitu suku PASEMAH, telah membuat lemang sejak lama. Makanan ini, sudah layaknya menjadi makanan khas dari suku Pasemah. Memang tidak bisa dipungkiri, ada kemungkinan bahwa suku Pasemah dan orang Malaysia mempunyai akar suku yang sama, sehingga makanan tradisionalnya pun bisa sama. Tetapi sebagai warga Indonesia, kita harus menjaga budaya bangsa, termasuk makanan tradisional Suku Pasemah ini.
Membiarkan Negara lain, mengklaim makanan khas suku di Indonesia sebagai makanan khas mereka bukanlah hal yang benar. Hal ini akan menghilangkan eksisitensi dari Suku Pasemah. Keberadaan Suku Pasemah seharusnya mulai diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Tidak menutup kemungkinan untuk mengenalkan Suku Pasemah ini ke mata dunia juga. Sebaiknya makanan tradisional seperti lemang, yang mungkin memang berasal dari suku melayu, tidak

diklaim oleh hanya satu Negara saja. Hal ini tentu tidak adil bagi suku Pasemah. Memperkenalkan lemang sebagai makanan khas melayu menurut saya lebih baik. Selain menghindari perselisihan dua Negara serumpun, Indonesia dan Malaysia, kita juga dapat memperkenalkan suku Melayu sebagai satu suku besar dengan beragam suku kecil seperti Pasemah ke mata dunia.


Mempertahankan budaya dari suatu suku agar tidak diklaim oleh Negara lain untuk melestarikan suku tersebut juga berlaku bagi, suku-suku kecil lain di Indonesia. Oleh karena itu, hendaknya, kita jangan bersikap acuh tak acuh tentang pengetahuan budaya bangsa sendiri. Dengan budaya yang kaya, kita sebenarnya memiliki banyak modal untuk mengenalkan Indonseia di kancah Internasional. Suku, seperti Suku Pasemah, yang memiliki beragam kearifan lokal, wajib kita jaga dan lestarikan. Dengan mengenalkan LEMANG sebagai kuliner jeme kite akan membuat masyarakat Indonesia kenal pula dengan Suku Pasemah itu sendiri.

Kuliner lemang ini mungkin bisa dikemas dengan lebih menarik lagi, agar menarik perhatian masayarakat luas. Jika masyarakat tertarik dengan kuliner ini, bukan tidak mungkin, kuliner seperti lempok dan tempoyak yang juga berasal dari Pasemah juga dapat menarik perhatian masyarakat luas untuk mencobanya. Dari kuliner inilah, biasanya akan muncul ketertarikan untuk mempelajari budaya Pasemah juga bahasanya. Oleh karena itu, makanan tradisional, seperti lemang ini, ikut berperan dalam mempertahankan eksistensi suatu suku.
 
DAFTAR PUSTAKA
Lemang [Electronic. (2013). Version], from http://id.wikipedia.org/wiki/Lemang
Lemang [Electronic. (2013). Version], from http://en.wikipedia.org/wiki/Lemang
Rismon, J. (2013). SEJARAH ADAT ISTIADAT JEME SEMENDE [Electronic Version], from http://putrasemende.blogspot.com/
SEJARAH SUKU BESEMAH [Electronic. (2011). Version], from http://adekabang.wordpress.com/2011/01/29/sejarah-suku-besemah/
Suku Pasemah (Besemah) [Electronic. (2013). Version], from http://protomalayans.blogspot.com/2012/07/suku-pasemah-besemah.html
TUGAS SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA SUKU PASEMAH BENGKULU [Electronic. (2011). Version], from http://www.scribd.com/doc/57214159/SUKU-PASEMAH
Wongkito, U. (2013). Wongkito: Suku Besemah [Electronic Version], from http://badahwongkito.blogspot.com/2012/07/suku-besemah-suatu-terminology-lebih.html



Jumat, 24 Mei 2013

Sosial Media, Lama-Lama Bikin Bosen Ya

Pernah denger orang yang punya smartphone tapi tidak suka memakainya atau bahkan berdampak negatif bagi dirinya sendiri? Ya sayalah salah satu orangnya. Saya pernah menjadi salah satu pengguna blackberry namun saya kurang menyukai menghabiskan waktu dengan bbm-an. Entah mengapa, saya merasa ngobrol dan bertemu langsung lebih menyenangkan.

Belakangan ini saya menyadari bahwa semakin sering saya melihat timeline di twitter semakin sering juga hati saya tidak tenang. Pernah suatu waktu saya jarang sekali melihat timeline twitter. Memang saya ketinggalan beberapa informasi, namun setidaknya pikiran saya tidak disibukkan dengan 'memata-matai' urusan orang lain melalui twitter. Kegiatan ini membuat saya sangat lelah namun tetap ingin melakukannya. Ini seperti ketagihan, ingin berhenti namun tidak bisa. Tidak jarang saya merasa kesal dengan suatu tulisan tapi tetap ingin menulusuri tentang tulisan itu. Alhasil saya menjadi lebih kesal lagi.

Ketika saya jarang menghabiskan waktu saya bersama media sosial, sebut saja instagram, twitter, path, dan masih banyak lagi, saya merasa lebih bisa melakukan banyak hal. Membereskan kamar yang biasanya butuh waktu 1-1,5 jam dapat saya lakukan dalam waktu setengah jam. Dan hal yang paling penting adalah saya bisa tidur nyenyak. Hal ini terjadi mungkin karena otak saya tidak terlalu banyak merekam informasi yang 'negatif' untuk saya sendiri, sehingga ketika tidur saya merasa lebih damai.

By the way, lepas dari BB sekarang saya adalah pengguna android. Mungkinkah ini yang disebut dengan paralysis? Membencinya tapi tidak bisa keluar dari sana. Yah walaupun untuk sementara saya belum bisa lepas dari 'ketagihan' akan sosial media, tapi saya berusaha untuk meminimalisasinya. Memperingatkan diri sendiri akan dampak negatifnya adalah salah satu upaya saya, dengan tulisan ini contohnya. Harapannya, saya akan merasa malu jika terus-menerus menyiksa diri karena 'ketagihan' akan sosial media tadi, setelah membaca tulisan yang saya buat sendiri ini.